Taufiq dan Hidayah ?

Tempo hari, seorang kawan saya yang mengajar mata kuliah Agama Islam mendapatkan pertanyaan dari mahasiswanya. Pertanyaan tersebut adalah “Apa perbedaan dari taufiq dan hidayah?”.

Saya ikut tergelitik mengingat banyaknya muslim Indonesia sangat sering menggunakan kalimat “wa billahit taufiq wal hidayah”, dan sampai saat ini saya nggak paham artinya. Hahaha.

Sekilas kedua kata tersebut artinya merujuk pada kata “petunjuk” dalam Bahasa Indonesia. Tentu tidak sesederhana itu, karena terjemah “kasar” dalam Bahasa Indonesia semacam itu akan mereduksi pengertian dan ke-khas-an kata dalam bahasa asalnya. Ambil contoh terjemah menjadi kata “jatuh” akan mereduksi arti dari “tibo”, “njelungup”, “nggeblak”, “ngglempang”, “mblasak”, dan kata-kata lain dalam Bahasa Jawa yang mirip dengan “jatuh”, namun hakekatnya memiliki arti yang lebih spesifik dari “jatuh” dalam Bahasa Indonesia.

Karena saya tidak tahu kira-kira buku dan kitab apa yang membahasnya, akhirnya saya menggunakan cara yang sering dipakai oleh anak muda kekinian dalam belajar agama. Yups! Googling! hahahaha.

Pengertian-pengertian yang ada dalam situs-situs berbahasa Indonesia cenderung membedakan hidayah sebagai sesuatu yang berbeda dengan taufiq. Banyak penjelasan situs-situs tersebut yang kurang memuaskan saya.

Akhirnya saya iseng mengetikkan di Google kata “hidayah” dan “taufiq” dengan huruf Arab. Saya mulai menscroll dan mencari pengertian-pengertian yang disampaikan dalam situs-situs hasil pencarian Google.

Akhirnya saya dapatkan penjelasan yang cukup memuaskan saya di situs tanya jawab berikut ini.

Dengan berbekal Bahasa Arab yang pas-pasan, saya mencoba menerjemahkan pengertian hidayah dan taufiq pada situs tersebut. Sesekali mentok saya akhirnya mencoba bantuan google translate. Tapi hasil dari Google Translate sangat kacau dan malah mengaburkan arti, sehingga saya memakai Kamus Al-Munawwir karya Mbah Yai Warson Munawwir milik istri (yang dibeli saat galau mau ngasih nama ke anak kami) untuk membantu proses penerjemahan tersebut.

Ternyata itu saja tidak cukup. Satu saat saya ketemu dengan kata “irsyad” dan “dalalah” yang kurang lebih artinya adalah sama dengan “petunjuk”. Bingung juga membedakan keduanya, padahal keduanya dipakai secara bersamaan dengan di-konjungsikan memakai kata “wa”. Akhirnya masalah bisa diselesaikan dengan membuka Kamus Al-Munawwir sinambi berdiskusi dengan istri yang memang kemampuan Bahasa Arab-nya lebih baik dari saya.

Berikut adalah garis besar terjemah dari situs tanya jawab versi saya.

Apa perbedaan dari Taufiq dan Hidayah?

Menurut ahli ilmu, hidayah ada 4 macam.

Pertama,hidayah berupa insting (الهداية الغريزية): Tuhan membimbing makhluk untuk kelangsungan hidupnya dan “apike panguripane”.

Dalil, surat Toha.

[الذي أعطى كلّ شيء خلقه ثمّ هدي [ طه : 50

yang berarti Tuhan membimbing pada kemaslahatan makhluknya di dunia
contoh: bayi diberi insting mencari payudara, membimbing burung, hewan dll utk kemaslahatan masing-masing.

Kedua, hidayah yg berarti petunjuk (dalalah, irsyad) dari yang lain, utk kemaslahatan seorang hamba di dunianya atau akhiratnya, atau keduanya. Hidayah semacam ini paling banyak muncul di Quran.

Contohnya surat Al-Ro’d

[ولكل قوم هاد [ الرعد : 7

Yg berarti setiap kaum memiliki petunjuk, petunjuk yg dimaksud adalah petunjuk jalan hidup.

Ketiga, hidayah berjenis taufiq. Adalah jenis hidayah khusus. Hidayah berjenis taufiq ini khusus datang dari Tuhan. Rasul2 adalah “hudatun”, yg berarti mereka menunjukkan (yadulluna) dan membimbing (yarsyudun) umat, tetapi si umat tadi dapat hidayah taufik itu urusannya Tuhan. Seperti dalam surat Hud

[وما توفيقي إلا بالله [ هود : 88

Taufiq semacam ini hak prerogatif tuhan. Ayat2 lain yg “diduga” terkait dengan taufik semacam ini adalah (kedua ayat ini tidak spesifik menyebut kata “taufiq”, tapi diduga terkait dengan definisi taufiq yang dimaksud) pada surat Al-Qasas dan Al-Syuura.

[إنك لا تهدي من أحببت ولكنّ الله يهدي من يشاء [ القصص : 56
وكذلك أوحينا إليك روحا من أمرنا ما كنت تدري ما الكتاب ولا الإيمان ولكن جعلناه نورا نهدي به من نشاء من عبادنا وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم ــ صراط الله الذي له ما في السماوات وما في الأرض ألا إلى الله تصير الأمور [ الشورى : 52 ـ 53

Sepertinya hidayah berjenis taufiq adalah hidayah yg dapat membuat seorang hamba menjadi taat pada Tuhan, dijauhkan dari setan, dijauhkan dari keburukan. Dan hidayah jenis ini adalah hak penuh Tuhan.

Keempat, hidayah yang ada di surat Muhammad dan Shoffat, yakni hidayah khusus untuk ahli surga dan ahli neraka. Intinya Tuhan akan “menunjukkan” jalan ke surga dan neraka bagi masing2 ahlinya.

Yang surga:

[سيهديهم ويصلح بالهم ـ ويدخلهم الجنة عرّفها لهم [ محمد : 5 ـ 6

Yang neraka:

[من دون الله فاهدوهم إلى صراط الجحيم ـ وقفوهم إنهم مسئولون [ الصافات : 23 ـ 24

Dari sumber ini, disimpulkan bahwa taufiq adalah salah satu varian hidayah. Varian yang spesial karena merupakan hak prerogatif Tuhan.

والله اعلم

Yup, selesai sudah terjemahan situ tersebut. Akhirnya pertanyaan mahasiswa teman saya itu bisa saya jawab.

Namun secara keilmuan saya mengakui bahwa pengertian taufiq dan hidayah yang saya ambil dari situs validitasnya masih perlu dipertanyakan. Ini dikarenakan sumber yang diambil “hanyalah” dari situs website. Ngaji dengan “googling” semacam ini tidak bisa dipercaya 100%. Hasil pengajian “googling” harus divalidasi ulang dengan bertanya pada Kiai-Kiai yang lebih mendalam ilmunya dalam agama, atau dengan meng-cross-check-annya dengan kitab-kitab yang mu’tabar.

Renungan tentang Khawarij

Satu pagi, saat sarapan dengan istri

Aku : “Dek, ada postingan teman yg cukup menarik, katanya, sepanjang sejarah peradaban Islam, dari zaman Nabi sampai zaman sekarang, semua aliran dan madzhab dalam Islam berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, kecuali Khawarij …”

Istri : terus?

Aku : tak pikir-pikir bener juga itu, mulai dari Imam Fiqih yang empat, Imam Hadis yang sembilan, Ahlussunnah-Asyariyah maupun Maturidiyah yang sumbangan keilmuan dalam ilmu kalam, komentar2 syarah thdp hadis nya luar biasa, kaum Mutazilah berperan besar thd kemajuan ilmu logika, filsafat, kedokteran, matematika, dll, kamu Sufi punya peran dalam dinamika “permusuhan keilmuan” dg filosof via perang “dua kitab tahafut”, Syiah berperan besar dlm munculnya Univ. Al-Azhar, pun fiqih Jafari dalam Syiah adl madzhab yg cukup signifikan dipertimbangkan dalam keilmuan, Ibn Taimiyah & Ibn Qoyyim juga cukup diperhitungkan dalam diskursus keilmuan Islam, bahkan Wahabi pun punya Utsaimin walaupun sering kontroversial, tapi sumbangan keilmuannya ada, minimal kitab karangannya itu ada.

Istri : (manggut-manggut)

Aku : Lha nak khowarij? Gak ono sumbangan blas deh sak elingku…

Istri : (nyimak karo nyendok sego) maklum to mas… mereka kan ‘aabid, bukan ‘aalim

Aku : (deg … mak tratap … mikir keras … lama-lama mengangguk setuju) bener juga yo …

Sayyidina Ali sek “baabu madiinatil ilmi” ae dipateni, mergo jare “laa hukma illa hukmallah” …

Yang membunuh adalah orang yang dikabarkan sangat ahli Ibadah, Qaari’ Al-Quran yang fasih, dan lain-lain.

Tapi yang dibunuh … ah, siapa dia yang dibunuh, orang yang paling awal masuk Islam dari golongan pemuda, yang berarti, ia adalah pemeluk Islam terlama dibandingkan orang lain yang hidup saat itu, orang yang digelari sendiri oleh Nabi sebagai “pintu kota ilmu”, satu-satunya orang yang kepadanya dan istrinya jalur keturunan Nabi dilanjutkan …

Ibn Muljam, si pembunuh Ali yang ahli ibadah itu mungkin merasa lebih baik dan lebih suci dibandingkan Ali

Dan saat ini di medsos banyak yang seperti itu, Berani menyalahkan orang-orang alim yang penguasaan literatur keilmuan-keislamannya tidak diragukan lagi. Orang-orang yang semangat beragamanya tinggi, namun tidak diimbangi dengan pengetahuan agama yang mencukupi, ‘aabid tapi tidak ‘aalim.

Saya jelas tidak masuk kategori tersebut. Pengetahuan agama saya kan pas-pasan, semangat ngibadah saya juga pas-pasan . Sehingga saya bukan ‘aalim, plus bukan ‘aabid.

Kamu bukan temanku?

A: “Jika anda sependapat dengan saya, maka anda adalah teman saya”

B: “Oh… begitu, oke… kalau begitu saya bukan teman anda!!”

A: “Lho, Kenapa anda bukan teman saya?”

B: “Sebab saya tak sependapat dengan anda!”

Akhir-akhir ini Jagat Maya Indonesia — seolah– terbagi menjadi dua kubu; kubu pro Ahok dan kubu anti Ahok. Dua kelompok ini saling adu argumen, beradu pendapat, saling mamainkan tensi, dan ujung-ujungnya saling menghujat.

Dengan menempatkan diri hanya pada posisi pro dan kontra saja, tak jarang terjadi pertentangan yang berakibat unfollow, unfriend, block, dan segala macam istilah yang menyiratkan “aku bukan lagi temanmu”.

Okelah, inti dari postingan ini sebenarnya mau membahas kutipan percakapan di atas. Apakah kesimpulan subjek B tepat?

Mari mainkan logika kita lagi.

A mengatakan “Jika anda sependapat dengan saya, maka anda adalah teman saya”, kita misalkan “setuju dengan pendapat saya” sebagai pernyataan s dan “teman saya” disimbolkan sebagai k. Di sini kita bisa simbolkan kalimat A menjadi

s\to k

Dengan menggunakan hukum aljabar proposisi, kita dapat menentukan kalimat-kalimat yang ekuivalen dengan kalimat tersebut yakni

s\to k\equiv \neg (s\wedge \neg {\ }k)

s\to k\equiv \neg s\vee k

Sehingga kita simpulkan kalimat A akan ekuivalen dengan kalimat:

“Tidaklah anda sependapat dengan saya atau anda adalah teman saya”

“Tidaklah benar bahwa anda sependapat dengan saya sekaligus anda bukan teman saya”

Lantas apakah kesimpulan B benar?

Perhatikan bahwa B mengatakan

B: “Oh… begitu, oke… kalau begitu saya bukan teman anda!!”

B: “Sebab saya tak sependapat dengan anda!”

Kita bisa merubah kalimatnya menjadi “saya tak sependapat dengan anda maka saya bukan teman anda”. Kalimat ini bisa kita simbolkan menjadi

\neg s\to \neg k

Pertanyaannya apakah kalimat tersebut ekuivalen dengan kalimat A?

Mari kita periksa menggunakan tabel kebenaran

Tabel kebenaran s \to k

s \to k
T T T
T F F
F T T
F T F

Tabel kebenaran \neg s\to \neg k

\neg s \to \neg k
F T F
F T T
T F F
T T T

Adakah keduanya sama? Jelas tidak.

Disimpulkan bahwa kesimpulan B yang –sepertinya– akan memutuskan pertemanan dengan A adalah salah.

Tabik

Muhammad Zuhair Zahid

 

Embedding Video di Blog

Mari belajar meng-embed video youtube di posting wordpress kita.

  1. Pilih sebuah video dari youtube. Saya pilih dua buah video yang kira-kira pas untuk saya taruh di posting saya.
  2. Buka url video yang kita inginkita embed
  3. Klik kanan pada video tersebut
  4. Pilih copy embed code 
  5. Masuk ke dashboard wordpress, dan pilih Post => Add New
  6. Tulis posting seperti biasa
  7. Paste-kan embed code di tempat yang anda inginkan di posting-an anda
  8. Publish seperti biasa
  9. Kita lihat hasilnya
  • Ini videonya Nusron Wahid   😎
  • Yang ini video anak-anak manggung nyanyi di MAPSI   🙄

Thats all …   :mrgreen:

(ternyata) Beragamapun memakai logika

Keriuhan para “ahli agama” yang sedang sibuk “menafsirkan” Surat Al-Maidah untuk “mendukung” Cagub masing-masing di Pilkada DKI , mengingatkan saya pada bahan diskusi di Mata Kuliah Al-Quran waktu saya kuliah di Prodi Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Radhiyallahu ‘anhu” (رضي الله عنه) -disingkat RA.- adalah kalimat yang sering kita dengar mengiringi penyebutan nama-nama orang yang dihormati, seperti para sahabat dan para ulama (ex: Abu Bakar RA. Umar RA., Usman RA., Imam Syafii RA., Ahmad Dahlan RA., Hasyim Asyari RA. dlsb.). Arti dari gelar tersebut kurang lebih adalah “Allah meridlainya”. Pernahkan kita berpikir, mengapa mereka diberikan gelar tersebut, mengapa bukan gelar lain? Apakah Al-Quran melegitimasi gelar RA untuk tokoh-tokoh tersebut?

Logika simbolik bisa menjawab pertanyaan tersebut. Berikut penjelasannya.

Kita tentu sangat familiar dengan kutipan ini ketika bersekolah dahulu:

  • Semua manusia pasti mati
  • Socrates adalah seorang manusia
  • Kesimpulan: Socrates pasti mati

Apakah kesimpulan tersebut sah secara logis? Mari kita telaah satu persatu.

Misalkan predikat manusia dilambangakan dengan M, predikat mati dilambangkan dengan T, dan subjek Socrates dilambangkan dengan s.

Kita dapat mengonversi argumen tersebut menjadi:

  • \forall x \left( M\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  • M\left( s \right)
  • / \therefore T\left( s \right)

Menggunakan aturan Instansiasi Umum dan Modus Ponens, kita akan mendapatkan:

  1. \forall x\left( M\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  2. M\left( s \right)                   / \therefore T\left( s \right)
  3. M\left( s \right)\to T\left( s \right)               (1 Instansiasi Umum)
  4. T\left( s \right)                   (3,2 Modus Ponens)

Kesimpulannya, kesimpulan bahwa “Socrates pasti mati” adalah sah.

Selanjutnya kita kembali ke masalah “radhiyallahu anhu” tadi.

Dalam al-Quran kita dapat menemukan ayat

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Perhatikan penggalan

  إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Secara latin ditulis “Innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadihil ulamaau” (dengan merofa’kan hamzah pada الْعُلَمَاء; dan menashabkan ha pada اللَّه ) dapat diartikan kurang lebih (والله اعلم بمراده, saya nyomot dari terjemahan online) Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. So, kita simpan premis ini terlebih dahulu.

Selanjutnya, di akhir Surat Al-Bayyinah, kita bisa menemukan ayat

جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Perhatikan penggalan

رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Secara latin ayat tersebut ditulis “Radliyallahu anhum wa radluu ‘anhu dzaalika liman khasyiya rabbahu”. Artinya kurang lebih (والله اعلم بمراده , saya nyomot dari terjemahan online) adalah Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. Simpan premis ini.

Selanjutnya kita perlu membahas definisi “ulama” yang ada pada premis pertama. ‘Ulamaa (الْعُلَمَاء) secara literal merupakan bentuk jamak dari isim faa’il عالم (‘aalim) yang artinya adalah orang yang berilmu. Kita sepakati dulu, bahwa orang-orang sholeh seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Imam Syafii, Imam Hanafi, Ahmad Dahlan, dan Hasyim Asyari merupakan orang-orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi (yang pastinya lebih tinggi daripada ilmu yang penulis punya). So, kita bisa simpulkan bahwa tokoh-tokoh tersebut merupakan orang yang ‘aalim, sehingga mereka bisa kita kategorikan sebagai bagian dari ‘ulamaa.

Langkah selannjutnya, demi kemudahan kita dalam mengutak-atik logika simbolik, kita merubah premis yang kita punya menjadi premis yang mudah disimbolkan.

  • Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” saya rubah menjadi bentuk “Setiap ulama takut pada Allah“.
  • Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” saya rubah menjadi bentuk “Semua orang yang takut pada Allah akan diridlai oleh Allah“.

Ambil permisalan: predikat ulama adalah U, predikat takut pada Allah kita simbolkan T, predikat diridlai oleh Allah diberi simbol R. Maka premis yang kita punya akan menjadi:

  • \forall x \left( U\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  • \forall x \left( T\left( x \right)\to R\left( x \right) \right)

Next, kita ambil salah satu dari kumpulan orang sholeh yang sudah kita sebutkan tadi. Ambil contoh Imam Syafii. Kita simbolkan subjek Imam Syafii dengan simbol s. Sebelumnya kita sudah sepakat di atas bahwa beliau adalah orang yang tinggi ilmu agamanya, sehingga beliau termasuk orang yang ‘alim, dan termasuk golongan ‘ulamaa. Dari sini kita mendapatkan:

  • U \left( s \right)             [dibaca: Imam Syafii berpredikat ulamaa]

Kita ingin menyimpulkan bahwa Imam Syafii layak mendapat gelar “Radliyallahu ‘anhu” -diridlai oleh Allah-, sehingga kitatulis:

  • R \left( s \right)            [dibaca: Imam Syafii diridlai Allah]

Secara keseluruhan kita memiliki argumen:

  1. \forall x \left( U\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  2. \forall x \left( T\left( x \right)\to R\left( x \right) \right)
  3. U \left( s \right)                            / \therefore R\left( s \right)

Selanjutnya kita bisa menggunakan aturan-aturan dalam logika simbolik untuk membuktikan bahwa kesimpulan “Imam Syafii diridlai Allah” adalah sah.

  1. \forall x \left( U\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  2. \forall x \left( T\left( x \right)\to R\left( x \right) \right)
  3. U \left( s \right)                             / \therefore R\left( s \right)
  4. U\left( s \right)\to T\left( s \right)           (1, Instansiasi Umum)
  5. T\left( s \right)\to R\left( s \right)           (2, Instansiasi Umum)
  6. T\left( s \right)              (4, 3 Modus Ponens)
  7. R\left( s \right)              (5, 6 Modus Ponens)

Disimpulkan bahwa argumen kita adalah sah, yang berarti bahwa gelar “Allah meridlainya” bagi Imam Syafii adalah sah. “Sah” karena diturunkan dari premis-premis yang diambil dari Al-Quran dan disimpulkan menggunakan aturan logika yang berlaku.

Tabik

Muhammad Zuhair Zahid

Ulul Azmi dan Revolusi

Perjuangan 25 orang Rasul Allah (yang konon berjumlah 313 orang) merupakan suatu kisah yang sering kita dengar. Bagaimana cerita-cerita tersebut menjadi dongeng pengantar tidur ataupun menjadi “ice breaking” para guru ngaji ketika selesai ngaji iqro’ ataupun al-Qur’an. Cerita para Nabi yang menyeru pada kebenaran, cerita yang sering menonjolkan sisi kekuasaan Tuhan yang tak terbatas, mu’jizat menakjubkan dari masing-masing Rasul, perlawanan kaum durhaka dengan ditambah bumbu-bumbu dramatik lain.

Dari 25 Rasul, terdapat 5 Rasul yang disebut Ulul Azmi. Kelimanya adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Kelimanya merupakan Rasul yang terkenal dengan kesabarannya, sebgaimana disebutkan dalam al-Qur’an “Washbir Kama Shobaro Ulul Azmi Minar Rusul”. Pernahkah kita sadari bahwa kisah kelima orang yang sering diakronimkan dengan NIMIM tersebut sebenarnya lebih dari bernilai teologis-dogmatis semata. Namun juga bersifat sosial-historis sebagai sebuah kisah perjuangan sosial. Kelimanya hidup dalam kondisi masyarakat yang jomplang dengan berbagai ketimpangan sosial yang terjadi. Kelimanya berusaha memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan (tentu saja) nilai moral yang kesemuanya berujung pada nilai teologis.

File:Nuh (Noah)1.png

Nuh hidup dimasa dimana stratifikasi sosial mulai menyengsarakan hidup kaum marjinal yang berstatus sosial rendah. Dia berteriak berjuang mewujudkan persamaan dan nilai kemanusiaan, mengangkat tangan menentang penguasa-penguasa yang menginjak-nginjak harga diri kaum marjinal. Padahal status-status dan posisi sosial rendah yang menjadi alasan ditindasnya mereka tidak pernah diharapkan oleh seluruh manusia. Menurut al-Qur’an 950 tahun Nuh berjuang (entah ini merupakan metafora al-Qur’an tentang masa perjuangan Nuh atau umur manusia zaman dahulu memang sangat lama). Dan selama perjuangannya Nuh mendapat 80 pengikut yang kesemuannya dselamatkan Tuhan dari air bah yang menggulung wilayah kaumnya.

File:Ibrahim (Abraham)1.png

Ibrahim hidup di masa kesewenang-wenangan Namrudz, raja Babilon yang sangat otoriter (untuk tidak menyebutnya sebagai tiran). Namrudz, seorang raja yang keji dan menganggap dirinya adalah yang berkuasa penuh terhadap hidup kaumnya. Ini dibuktikan dengan kesanggupannya membunuh seorang tahanan demi menunjukkan bahwa ia mampu mematikan orang. Namrudz juga merupakan Raja yang menggunakan agama berhalanya untuk memasung kebebasan berpikir di kalangan rakyatnya. Terbukti bagaimana ia memakai argumentasi teologis sebagai alasan untuk membakar Ibrahim. Ibrahim berjuang melawan raja ini dan melarikan diri dari wilayahnya untuk kemudian berpindah ke frame cerita seputar perjanjian Ibrahim, kelahiran Ishaq dan pengorbanan Ismail.

File:Musa (Moses)1.png

Musa mungkin adalah tokoh yang paling heroik dari kelima Rasul tersebut. Hampir sama dengan Ibrahim, Musa berjuang melawan Firaun sang penguasa Mesir (yang menurut data sejarah merujuk pada Ramses II). Bagaimana sang Firaun adalah seorang gila hormat. Raja ini adalah Raja yang memakai isu rasial untuk menindas bangsa lain. Ia menggunakan tenaga Bani Israil yang kala itu mempunyai satus sosial lebih rendah dari bangsa asli Mesir (Qibthiyyah) sebagai budak. Ia menggunakan argumen ini untuk membunuh bayi laki-laki bangsa Israel, memperlakukan mereka dengan tidak adil, dan menolak melepaskan mereka ketika Musa berinisiatif meminta Firaun membiarkan kaumnya pergi bersamanya. Menurut Perjanjian Lama, Firaun akhirnya merelakan mereka pergi setelah Tuhan ikut campur tangan dengan mengirim nyamuk, penyakit, katak, membunuh anak pertama kaum Mesir, dan merubah air sungai Nil menjadi darah. Namun di endingnya Firaun yang tidak mau kehilangan status quo nya berubah pikiran dan mengejar mereka. Jalan cerita selanjutnya tentu sudah diketahui dari cerita Al-Qur’an dan Perjanjian Lama. Berpindah frame menuju cerita pencarian identitas dan jati diri Israel; bahwa Israel diselamatkan, Tuhan mengambil perjanjian dengan mereka, turunnya sepuluh perintah Tuhan dan seterusnya.

File:Jesus Name in Arabic.gifSementara Isa hidup di masa penjajahan Romawi atas daerah Tanah Suci, khususnya Betlehem (bhs Ibrani; betel=rumah Tuhan). Isa berjuang melawan komersialisasi Rumah Ibadah yang dilakukan kaum peminta sedekah dari kalangan Yahudi (Farisi atau Saduki ya?lupa). Ia juga berusaha menyuarakan kondisi real masyarakatnya yang sebagian besar miskin, menyadarkan masyarakat Yahudi yang terlena dan merasa seolah tidak sedang dijajah (minus beberapa golongan gerilyawan yang tetap melakukan aksi perlawanan terhadap imperialisme Romawi kala itu), dan mencoba melawan hedonisme yang kala itu menghegemoni masyarakat Yahudi dan Romawi di wilayah Tanah Suci. Ia lebih memakai bentuk perjuangan moral daripada berhadapan vis a avis penguasanya. Bagaimana akhirnya gerakan moralnya bisa merebut hati ribuan massa dan dianggap berbahaya oleh kaum penguasa Romawi, khususnya gubernur di wilayah tersebut. Akhir ceritanya bercabang menurut al-Qur’an dan cerita biblikal. Al-Qur’an menyebut bahwa Isa diselamatkan dan diangkat oleh Tuhan, sementara Bible menunjukkan bahwa Isa disalib, mati di tiang salib untuk kemudian dibangkitkan kembali.

File:Dark vignette Al-Masjid AL-Nabawi Door800x600x300.jpg

Ulul Azmi terakhir adalah Muhammad, yang dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dalam perubahan dunia oleh Michael H. Hart. Ia hidup dari kalangan bangsawan miskin dengan status sosial tinggi yang kecewa dengan ketidak adilan yang terjadi di Makkah yang ketika itu memakai sistem kekuasaan Suku. Ia akhirnya bangkit memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan persamaan bagi seluruh manusia, khususnya di wilayah Makkah. Bagaimana ia memproklamirkan diri sebagai Nabi, menyerukan pemenuhan hak-hak kemanusiaan oleh warga Makkah, pemenuhan hak perempuan dan budak, menyeru pada perlunya dilaksanakan revolusi teologis dari polytheisme menuju monotheisme, menyerukan revolusi besar di bidang moral dan seterusnya. Selama 13 tahun ia ditentang oleh kaumnya terutama dari kalangan bangsawan yang menganggap sitem sosial baru yang ditawarkan Muhammad yang menetapkan stratifikasi lunak dan menjamin pemenuhan hak-hak kaum marjinal merupakan sistem yang sama sekali tidak menguntungkan mereka dan bahkan akan menurunkan status sosial mereka. Mereka yang tidak mau melepas status Quo nya akhirnya menentang Muhammad habis-habisan yang akhirnya gagal, hal ini mungkin disebabkan status sosial Muhammad yang berasal dari salah satu suku berpengaruh di Makkah. Bahkan pernah Muhammad dan pengikutnya dikucilkan dan diisolasi dari sumber pangan dan komunikasi dengan dunia luar selama 3 tahun. Muhammad hijrah ke Madinah dan memulai satu gerakan baru disana. Dengan kekuasaan yang ia miliki di sana, ia mulai bisa mempergunakan kekuatan militer untuk berusaha mewujudkan cita-citanya dan menciptakan persamaan, keadilan dan terlaksananya nilai kemanusiaan yang lebih adil bagi peradaban. Ia menjawab tantangan negara Makkah dengan beberapa konfrontasi fisik (perang Badar, Uhud, Khandaq) dan cara diplomatik (perjanjian Hudaibiyah). Kemudian ia membebaskan Makkah dari kekuasaan kaumnya dan menjadikan Madinah sebagai pusat peradaban dan pemerintahannya untuk kemudian mengajarkan ajarannya ke seluruh dunia.

Kelima Rasul tersebut melaksanakan revolusi sosial yeng berbeda-beda. Akan tetapi ada benang merah yang dapat ditarik dari kelima kisah mereka. Pertama, mereka adalah pejuang kemanusiaan yang mengedepankan humanitas, liberalitas dan freternitas sebagai nilai dasar perjuangannya (disamping tentu saja nilai teologis; monoteisme). Kedua, mereka tidaklah nyaman dengan kemapanan yang menyengsarakan salah satu komponen masyarakatnya walaupaun secara sosial mereka bisa saja diuntungkan dengan kondisi sosial yang ada. Ketiga mereka tidaklah takut dengan penguasa dikarenakan komitmen pada nilai-nilai teologis dan nilai-nilai humanis yang mereka yakini kebenarannya. Kelima, mereka mau dan berani keluar dari lingkaran pusat, baik itu wacana, ide maupun pemikiran yang sedang menguasai dan menghegemoni wilayahnya dan mendirikan satu payung pemikiran baru yang seringkali keluar dari mainstream yang ada. Mereka berusaha membebaskan diri dari kungkungan hegemoni di masanya. Berusaha menarik diri dan keluar dari arus pusat. Stigma kiri tentu akan dicap pada mereka. Namun bukan berarti mereka anti kemapanan, namun mereka menentang pemapanan nilai-nilai yang berujung pada usaha pemapanan status

Al-Quran dan Matematika

[Ini adalah tulisan lama saya yang sudah pernah saya publish di blogspot dan ikut saya boyong ke wordpress]


Ternyata artikel terkait matematika dan al-Quran sudah dibahas di wikipedia. Cek di sini


Tafsir bi al’-Ilmi

Al-Quran adalah “kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjizat), diturunkan kepada nabi Muhammad saw. penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan malaikat Jibril ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita dengan jalan mutawatir (oleh orang banyak), serta mempelajarinya bernilai ibadah, dimulai dengan al-Fatihah dan ditutup dengan Surat an-Naas, dan dalam pengertian lain ditambahkan kalimat “terpelihara dari setiap perobahan dan pergantian”.

https://i2.wp.com/19miracle.org/wp-content/uploads/2012/01/basmalah2.jpg

Diantara kemukjizatan al-Quran, antara lain adalah sifatnya yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Dimana ayat yang sering dirujuk adalah Surat Fusshilat ayat 3. Dalam ayat tersebut, Allah

memberikan suatu statemen, bahwa dalam seluruh ciptaan-Nya, Allah memperlihatkan segenap tanda kekuasaan-Nya disetiap penjuru alam, bahkan dalam diri kita sendiri pun terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Dari sini muncul suatu metode penafsiran al-Quran yaitu tafsir bi al-’ilmi. Tafsir ini sebenarnya merupakan pengembangan dari tafsir bi ar-ro’yu (tafsir diroyah). Tafsir ini bertitik-tolak dari pendapat sang mujtahid dan tidak berdasarkan pada hal-hal yang dinukilkan dari sahabat dan tabi’in.

Tafsir bi al-’ilmi merupakan bentuk tafsir yang dipengaruhi oleh temuan-temuan keilmuan mutakhir. Tafsir ini secara sederhana dapat diartikan sebagai cara memahami al-Quran dengan penemuan-penemuan sains modern. Tafsir jenis ini berorientasi pada ayat-ayat al-Quran yang bersifat kealaman (ayat-ayat kauniyah), sehingga menuntut seorang mujtahid bekerja keras mengungkap hubungan antara ayat-ayat tersebut agar dapat memperlihatkan kemu’jizatan al-Quran.

Banyak pendapat yang bermunculan dalam menyikapi kehadiran tafsir jenis ini. Di satu sisi, banyak pendapat yang mendukung kehadiran tafsir jenis ini. Memang kehadiran tafsir ini merupakan jawaban dari kemunduran yang dialami umat Islam dalam hal ilmu pengetahuan. Sebenarnya, tafsir ini sendiri sudah muncul sejak zaman Abbasiyah saat aliran muktazilah berkuasa. Dan akhirnya tafsir ini kembali menggeliat setelah melihat kemunduran dan stagnansi yang dialami ilmu pengetahuan Islam.

Argumen yang diungkapkan pendukung tafsir model ini, adalah ayat-ayat yang memerintahkan manusia memakai dan menggunakan segenap kemampuan akalnya untuk memikirkan ciptaan Allah. Antara lain dalam Surat Ali Imran yang didalamnya terdapat istilah ulul albab sebagai orang-orang yang mau memikirkan ciptaan Allah. Argumen lain adalah ayat yang mencela orang-orang yang hanya memngikuti nenek moyangnya (taklid) tanpa mencari inovasi baru dalam hidup.

Di sisi lain, pihak yang menolak tafsir model ini memakai argumen, bahwa sesungguhnya tafsir model seperti ini hanya membuat-buat penafsiran al-Quran, dimana terdapat ancaman dari Nabi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, yang artinya kurang lebih:

“… Dan barangsiapa menafsirkan al-Quran menurut pendapatnya (ro’yu) nya maka hendaknya ia bersedia menempatkan diri di neraka pula”.

Mereka juga memakai argumen surat al-Baqarah ayat 169 dan surat an-Nahl ayat 44 yang menjelaskan bahwa selain dari Rasulullah, tidak ada yang berhak menafsirkan al-Qur’an. Bagi kelompok ini, al-Quran adalah kitab tasyri’, bukan kitab yang diturunkan untuk ilmu pengetahuan.

Memang, bila kita analisis lebih mendalam, bagaimana sebuah teori ilmiah modern yang bersifat nisbi, relatif dan bisa saja berubah sewaktu-waktu, dapat digunakan untuk menafsirkan ayat al-Quran yang mutlak kebenarannya. Apalagi fakta bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang dipergunakan sebagai dasar penafsiran ayat-ayat tersebut adalah orang-orang Barat, dimana sangat dimungkinkan faham-faham mereka yang bertentangan dengan Islam ikut teradopsi.

Tafsir bi al’-ilmi yang sering dikritik memakai pendekatan ilmu-ilmu pengetahuan seperti fisika, biologi dan disiplin ilmu lain yang semuanya memakai dasar logika induktif. Observasi yang memakai metode ilmiah yang menekankan pentingnya peragaan percobaan dipergunakan untuk menyusun sebuah teori. Penyelidikan ilmiah oleh berbagai macam disiplin ilmu tersebut menekankan sikap empirik, dan bersandar pada percobaan yang mantap. Dorongan untuk melakukan percobaan ilmiah secara empirik tersebut mula-mula ditekankan oleh Galileo Galilei (1564-1642).

Contoh penafsiran bi al-’ilmi antara lain adalah konsep terbentuknya alam semesta memakai teori big bang yang dihubungkan dengan Surat al-Anbiya’ ayat 30, jumlah selaput rahim yang dihubungkan dengan Surat az-Zumar ayat 6, penyerbukan tumbuhan oleh angin yang dihubungkan dengan Surat al-Hijr ayat 22, dan lain sebagainya, yang semuanya terhubung dengan ayat al-Quran.

Yang menjadi permasalahan adalah pernyataan-pernyataan mufassir bi al-’ilmi seolah memaksa al-Quran agar terhubung dengan ilmu pengetahuan. Seperti pernyataan bahwa zarrah dalam Surat Yunus ayat 61 merujuk pada atom.

Ada pula penafsiran-penafsiran yang sampai pada kesimpulan yang bertentangan dengan doktrin Islam yang diyakini oleh mayoritas muslim. Contohnya Agus Mustofa, seorang pengarang yang menulis buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”. Di dalam bukunya, beliau mengungkapkan argumen-argumen ilmiah, berupa teori-teori fisika yang menguatkan pendapatnya bahwa akhirat tidaklah kekal seperti yang diyakini oleh mayoritas muslim saat ini.

Inilah yang menyebabkan tafsir bi al-’ilmi dikritik, bahwa kebenaran tafsir ini tidak kekal. Kenapa? Karena penarikan kesimpulan dari ilmu pengetahuan menggunakan cara generalisasi terhadap beberapa fakta yang ada. Memakai beberapa observasi yang seolah mewakili seluruh keadaan jagat raya ini.

Sifat ilmu pengetahuan sendiri selalu berevolusi dari waktu ke waktu. Ambil kasus planet Pluto, selama kurang lebih 70 tahun, Pluto dianggap sebagai bagian tata surya, namun belum lama ini Pluto didepak dari keanggotaan tata surya, dan diklasifikasikan sebagai benda langit biasa yang sejenis dengan asteroid.

Matematika

Apakah matematika itu? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan berbagai macam jawaban, tergantung bilamana pertanyaan itu dijawab, dimana dijawab, siapa yang menjawab, dan apa saja yang dipandang sebagai “matematika” oleh si penjawab.

Begitu banyak pendapat muncul dalam pendefinisian matematika. Ada yang mengatakan matematika sebagai bahasa simbol, matematika metode berpikir logis, matematika adalah sains mengenai kuantitas dan besaran, matematika adalah sains yang memanipulasi simbol, dan lain sebagainya.

Istilah mathematics (Inggris) berasal dari bahasa Yunani mathematike yang bermakna “relating to learning”. Berasal dari akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu, dan berhubungan erat dengan kata mathanein yang berarti belajar (berpikir).

Dipandang dari sudut etimologis, perkataan matematika berarti “ilmu yang diperoleh dengan bernalar”. Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, diproses dalam struktur kognitif dan akhirnya disimpulkan dalam konsep matematika.

Matematika mempunyai tiga sifat, yaitu deduktif, terstruktur, serta berfungsi sebagai ratu sekaligus pelayan ilmu. Penekanan yang diambil oleh makalah ini adalah sifat metematika sebagai ilmu dengan penalaran deduktif.

Sebagai ilmu deduktif, matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan. Walaupun dalam matematika, kebenaran bisa dimulai secara induktif. Namun kebenaran generalisasi yang diambil harus bisa dibuktikan secara deduktif. Logika deduktiflah yang dipakai dan hukum-hukum logika dalam matematika menspesifikasikan makna dalam pernyataan matematis, Contohnya adalah jika kita mengatakan bahwa seluruh bilangan genap habis dibagi dua, maka kita harus mampu mebuktikannya untukkeseluruhan bilangan genap, walaupun sebelumnya kita mengambil suatu aksioma berupa pernyataan bahwa 2n adalah bilangan genap.

Pembuktian Al-Quran dengan Matematika

Al-Quran, seluruh isinya adalah merupakan mukjizat. Simbol-simbol maknanya, yaitu lafaz-lafaznya juga merupakan mukjizat. Untuk mebuktikan kemukjizatan al-Quran, dilakukan berbagai cara, salah satunya dengan menghubungkan al-Quran dengan ilmu pengetahuan yang ada.

Dalam pembuktian al-Quran dengan tafsir bi al-’ilmi, ditemukan banyak kelemahan, yang salah satunya disebabkan karena logika yang dipakai oleh ilmu pengetahuan kebanyakan adalah logika induktif. Lalu bagaimana dengan pengungkapan mukjizat al-Quran dengan memakai pendekatan matematika?

Al-Quran banyak mendorong manusia untuk memperhatikan, berfikir, memahami dan menggunakan akal. Dalam penciptaan langit dan bumi, berjalannya kehidupan, dan seluruh ciptaan Allah yang lain, terdapat keteraturan perhitungan yang luar biasa. Dan semuanya dalam satuan angka.

Angka adalah ruh dari matematika, sebuah bahasa murni ilmu pengetahuan (lingua pura) yang menjadi bahasa universal dan diyakini oleh Carl Sagan, seorang fisikawan, sebagai bahasa universal alam semesta. Matematika bukan ciptaan manusia-manusia berintelegensi tinggi seperti Euclid, Pythagoras ,Archimedes, al-Khawarizmie, Galileo, Kepler, ataupun Stephen Hawking. Matematikawan tidaklah menciptakan matematika, namun mereka menemukan adanya aturan atau persamaan matematika dalam segala hal yang diciptakan oleh Allah.

Apa hubungan matematika dengan al-Quran? Peerlu kita tahu, bahwa salah satu jenis mukjizat dari al-Quran adalah i’jaz ‘adadi (mu’jizat yang bersifat bilangan). Fenomena ini sudah banyak dipelajari oleh ulama-ulama terdahulu dan bahkan sampai sekarang pun masih banyak dipelajari oleh para ulama.

I’jaz ‘adadi inilah yang kemudian dirujuk sebagai sebuah pendekatan pembuktian mukjizat baru, yaitu dengan ilmu matematika. Seperti yang dilakukan A. Salma Alif Sampayya, Abu Zahra an-Najdi dan lain sebagainya.

Cara pembuktian kemukjizatan al-Quran seperti ini sangat unik. Diantaranya ditemukannya keseimbangan jumlah kata syahr (bulan) sebanyak 12 kali, jumlah kata sholawat (jama’ dari sholat) adalah lima, ad-dunya dan al-akhiroh yang sama-sama disebut 115 kali, dan lain sebagainya.

Apalagi pemakaian komputer untuk menghitung jumlah kata-kata dalam al-Quran, nilai numerik suatu kata, prosentase suatu kalimah terhadap keseluruhan al-Quran serta penemuan angka 19 sebagai angka kunci untuk memahami kombinasi-kombinasi angka dalam al-Quran, semuanya makin memantapkan penggunaan i’jaz ‘adadi dalam pembuktian kemukjizatan al-Quran.

Samakah pembuktian kemukjizatan al-Quran dengan sains non-matematik dan matematik? Tentu saja berbeda.

Matematika membuktikan kebenaran al-Quran bukan dengan observasi terhadap alam, namun dengan cara mencari titik temu dan keseimbangan bilangan dalam al-Qur’an. Matematika tidak mengenal pengamatan secara ilmiah pada alam semesta untuk memahami kemukjizatan al-Quran. Berbeda dengan Fisika, Biologi dan Geografi yang membuktikan kemukjizatan al-Quran dengan pengamatan terhadap alam semesta, baru kemudian “menghubungkan”nya dengan al-Qur’an.

Matematika hanya membutuhkan al-Qur’an itu sendiri. Matematika hanya membutuhkan data ‘berapa jumlah kata yaum?’, ‘berapa jumlah huruf dalam kalimah bismillahirrohmanirrohiim?’, ‘berapa nomor urut Surat an-Nuur dalam mushaf?’ dan lain sebagainya. Dari situ, dilakukan suatu permutasi, kombinasi dan operasi aritmatika lain yang nantinya akan menunjukkan sebuah keajaiban. Proses pembuktiannya yang murni memakai nalar dan bersumber dari al-Quran itu sendiri, membuat matematika Quran sungguh menakjubkan dan jauh dari kontroversi. Sifat matematika sendiri yang tidak membutuhkan observasi juga makin meyakinkan bahwa matematika Quran memang benar.

Namun, pembuktian al-Quran dengan cara ini, juga kadang dipakai seseorang untuk mendukung pendapatnya. Ambil contoh Rasyid Khalifa yang mengambil kesimpulan bahwa 2 ayat terakhir Surat at-Taubah harus dikeluarkan dari al-Quran karena “mengacaukan komposisi matematis al-Qur’an”. Pembuktian kemu’jizatan al-Quran dengan matematika juga menjadi alat penyebaran dogma dan keyakinan yang dianut oleh seorang ilmuwan. Seperti yang dilakukan Abu Zahra’ an Najdi yang mencoba mendukung faham-faham kaum Syi’ah dengan argumen matematisnya.