Simtudduror ku..

Sholawat1

Sholawat1

tanggal 13 Februari jam 20.00, dimulai pengajian di masjid Khoirul Anwar, Kradenan, Maguwoharjo. Dimulai dengan penampilan hadroh anak-anak TPA, dilanjutkan dengan pembacaan simtudduror oleh Ahbaabul Musthofa. Paginya (tanggal 14 Februari) dilanjutkan sema’an al-Quran lalu malamnya ditambah simtudduror-an lagi plus pengajian peresmian masjid. Di malam kedua itu, simtudduror-an dipimpin oleh Habib Dullah diiringi Ahbaabul Musthofa.

Malam kedua itulah, aku ikut naik ke panggung, satu karpet dengan Habib Dullah. Ketika memandang beliau dari dekat, aku langsung terfikir… “Oh, mungkin seperti inilah rupa Nabi Muhammad saw. Bukankah Habib adalah orang-orang yang konon di dalam tubuhnya mengalir darah Nabi?”

Selanjutnya, di tengah pembacaan simtudduror, sinambi nuthuk rebana aku berfikir….

“Apa memang seperti inikah Nabi? Menganjurkan pengikut-pengikutnya melakukan sesuatu yang membuai hayalan?” Aku berfikir seperti itu sambil ingat bagaimana “pagelaran Habib Syeh” selalu membuat orang histeris dan terbuai. Kita sendiri bisa saksikan, bagaimana seorang Habib punya pengikut begitu banyaknya. Yang kadang salah satu di antaranya harus memaksakan diri memakai baju putih, menghafal bait-bait simtudduror

Allah… aku sendiri menyukai membaca simtudduror, diba’, barzanji, ada yang bilang kalau Nabi hadir dalam pembacaan kitab maulud itu. Aku sendiri gak ingin terlalu terhanyut dalam hal-hal gak logis kaya gitu. Toh, seharusnya kita meniati membaca semua kitab maulud untuk eneladani sikap Nabi. Kitab Maulud sendiri perlu dikritisi lho!!!

Riwayat Nabi Muhammad seringkali dibalut dengan mitos-mitos nan tak logis yang justru akan mematikan nalar berpikir kita. Ambil contoh dalam barzanji, ada pernyataan bahwa Nabi usia -kalau gak salah- tiga bulan sudah bisa berdiri, usia -kalau gak salah- lima bulan sudah bisa berdiri, usia -kalau gak salah- sembilan bulan sudah bisa berlari. Logiskah???

iya…bener nabi itu pribadi luar biasa, linuwih di antara yang luwih-luwih….

namun seyogyanya kita mengambil spirit perjuangan Nabi to… bagaimana Nabi mencoba menginjeksi masyarakat dengan ide-ide rasional… melakukan revolusi sosial nan total yang akhirnya membuat masyarakat Arab nan biadab menjadi beradab….

Entah…

Advertisements

Adek Angga dan Ujiannya

Pagi ini aku telfon seseorang, Anggraini Khoirotul Ummah namanya. Siswa kelas 3 sekolah menengah di sebuah Madrasah Aliyah di daerah Ponorogo. Dalam pembicaraan singkat -sekitar 12 menit- aku mendapati seorang siswa yang sedang “tertekan” dengan adanya ujian nasional. Tahun ini -kata dia- siswa Madrasah Aliyah juga harus menghadapi ujian pengetahuan keagamaan. Allah… berarti 3 ujian harus mereka lewati. Pertama, ujian nasional (la’natullah) yang menghadapkan 6 mata pelajaran. Kedua, ujian madrasah yang merupakan wewenang madrasah dan daerah, dan terakhir ujian pengetahuan keagamaan.

Pendidikan -katanya dan idealnya- adalah pemanusiaan manusia. tapi yang terjadi malah “proses pematian kreatifitas” dan pembodohan. Gimana gak bodoh coba? siswa belajar bukan karena keinginan pribadi namun karena paksaan pemerintah.

haduh sulit untuk mengungkapkan isi hatiku pasca mendengar celoteh dek Angga tadi pagi. Jadi ingat malam Jum’at kemarin ketika aku ngeles ngaji di tempat Azkiya. Malam itu kita nggak ngaji akhirnya karena Azkiya harus ikut seleksi CCAI esok paginya. So, aku nemenin dia belajar buat persiapan seleksi tersebut. Aku liat soal yang dipakai buat preview. Eeee… lagi-lagi aku harus misuh “Allahu Akbar…“. Seluruh soalnya hafalan!!!!

Fiqih, Aqidah, Qishoshul Anbiya’, Akhlak….Qur’an, Hadits…. semua hafalan dab!!!

Langsung aku teringat kata-kata almukarrom (hihihi) Cak Nun bahwa anaknya pernah bertanya, “yah… agama itu apa to??? tak kira agama itu mata pelajaran…”

Aku berfikir keras…iya ya… agama sekarang direduksi menjadi sebuah materi yang harus “diketahui”. bukan lagi menjadi nilai yang menginspirasi masnusia untuk membangun peradaban dan ber-relasi dengan Tuhan..

Semakin agama hanya dimaknai sebagai sebuah cover, ritual dan identitas, semakin dangkal dan jumud pula pemaknaan agama… Entah…

Indonesia ku nan remuk…

Piye Indonesia iki…” kata Fatik, “nang temanggung kerusuhan ki…nak akar masalahe kemiskinan ngunu rodo nggaya…lha dudu ok…” lanjutnya…

Lha terus opo?” tanyaku yang emang belum liat berita dari pagi… “sektarian???” lanjutku bertanya…

iyo sektarian….” Jawab fatik

Malamnya aku nonton berita di tempat Ayub. Lha iya emang ngawur kok ya… gara-gara sidang pelecehan agama -dimana terdakwa dituntut lima tahun penjara- akhirnya kerusuhan terjadi. Satu mobil polisi dihajar entek. Beberapa warga yang gak tau apa-apa ikut kena pukul. Pihak polisi pun juga sama, ada yang terluka. Memang terlihat kedua kubu sudah terpancing emosi.

Polisi memang bertugas mengamankan keadaan, sehingga mereka pun diperbolehkan melakukan tindakan yang sesuai SOP [standard operating procedure kali…]. Sayange polisi ikut ngehajar beberapa warga yang gak bersalah, cuma pas nepak’i berada di tempat kejadian [right man in the right placei, hihihi] .

Pasca kerusuhan di depan PN Temanggung, dilanjut pengrusakan terhadap tiga rumah ibadah [asumsiku sih itu gereja semua, tapi di berita gak disebut spesifik sih] yang salah satunya baru selesai direnovasi. Allah karimpiye jan… 2 milyar kerugian materiil diperkirakan. Belum dihitung kerugian imateriil seperti menguatnya ke-akuan Kristen dan Islam, sensitivitas masalah-masalah keagamaan dan lain-lain. Parah ya???? Haduh… ini sudah di batas kewajaran.

Asumsi nya sih penyerang-penyerang gereja itu orang luar Temanggung sendiri. Dan modelnya bener2 vandal banget. Remuk jan. hp dan seluruh media yang merekam aksi pengrusakan dibanting dan dirusak. Kok ya gak gentel banget. Cuma maunya lari dari tanggung jawab. Gak ada bedanya dengan pengecut-pengecut yang gak punya moral, penakut..

Teriakan allahu akbar diteriakkan lantang namun dengan aksi pengusakan. Kejamkah allah??? Said Aqil bilang dalam sebuah kesempatan bahwa asbabun nuzul “la ikroha fid din” adalah ada seorang sahabat asli Madinah yang memaksa anak-anaknya –yang Kristen- untuk masuk islam. Lha kok ya Islam anyaran [muallaf] yang sok-sokan pake sorban itu gak mikir sampai di sana. Nama Tuhan sama sekali gak pantas disebut dalam sebuah aksi vandalisme brutal kaya itu. Payah banget sih…

Memang, dari dulu sektarianisme dengan politisasi agama adlah hal yang terlalu sering terjadi dan seolah niscaya. Lha tapi sudah 2011 kok ya masih belum dwasa rakyat ini, terutama kelompok-kelompok penyerang tersebut. Remuk negaraku……….

Tentang Peradaban

Sebenarnya apa sih yang membuat peadaban mandeg? Apa karena masyarakat yang memang secara sadar “menolak modernitas ” dan tertutup dengan informasi dari luar?

Bukan, tidak,,,

yang terjadi mungkin adalah kesengajaan menutup informasi oleh oknum-oknum tertentu, para elit yang tidak ingin “keteraturan sosial” dalam masyarakatnya terganggu. Keteraturan sosial? Yah, maksudku kemapanan sosial yang menempatkan elit-elit tersebut dalam posisi yang memiliki hak-hak khusus dalam masyarakatnya.

Ini sekedar asumsi saja. Namun memang nampak seperti itu bagiku. Jika melihat kondisi Afrika, Jawa dan daerah lain yang “senasib”. Banyak orang-orang terpandang memandang sebuah pembaruan sebagai sebuah ancaman bagi tata sosial yang sudah mapan. Namun di sisi lain, ada -mungkin apologi- bahwa kekhatiran tersebut berhulu pada ketidakinginan elit-elit tersebut melihat masyarakatnya “tercemar” budaya luar yang -memang kadang- tidak sesuai dengan nilai-norma-adat yang arif.

Selanjutnya ilmu pengetahuan. Sejauh manakah kebolehan ilmu pengetahuan mengeksplorasi berbagai kearifan lokal yang ada di daerah? Ambil contoh, keingintahuan seseorang dalam memaknai sejarah kadang kala memaksanya memasuki ranah-ranah terlarang dalam adat. Semisal mendalami sejarah sebuah masyarakat tertentu kadang harus dengan meneliti makam ataupun tempat-tempat keramat yang terkadang tidak boleh didatangi.

Aku teringat dengan posisi ilmu pengetahuan di bad 15 an ketika gaung renaisaance bergaung di Eropa. Ilmu pengetahuan berada dalam posisi kontradiktif dengan dogma Kristen pada masa itu. Bagaimana tidak? Jika penggunaan nol, kalkulus dan kekosongan harus bertabrakan dengan dogma Aristotelian yang menyatakan bahwa tidak ada kekosongan di alam semesta. Atau teori geosentris yang akhirnya harus dipatahkan Copernicus?

Yah, mungkin perlu didiskusikan ini…