Ulul Azmi dan Revolusi

Perjuangan 25 orang Rasul Allah (yang konon berjumlah 313 orang) merupakan suatu kisah yang sering kita dengar. Bagaimana cerita-cerita tersebut menjadi dongeng pengantar tidur ataupun menjadi “ice breaking” para guru ngaji ketika selesai ngaji iqro’ ataupun al-Qur’an. Cerita para Nabi yang menyeru pada kebenaran, cerita yang sering menonjolkan sisi kekuasaan Tuhan yang tak terbatas, mu’jizat menakjubkan dari masing-masing Rasul, perlawanan kaum durhaka dengan ditambah bumbu-bumbu dramatik lain.

Dari 25 Rasul, terdapat 5 Rasul yang disebut Ulul Azmi. Kelimanya adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Kelimanya merupakan Rasul yang terkenal dengan kesabarannya, sebgaimana disebutkan dalam al-Qur’an “Washbir Kama Shobaro Ulul Azmi Minar Rusul”. Pernahkah kita sadari bahwa kisah kelima orang yang sering diakronimkan dengan NIMIM tersebut sebenarnya lebih dari bernilai teologis-dogmatis semata. Namun juga bersifat sosial-historis sebagai sebuah kisah perjuangan sosial. Kelimanya hidup dalam kondisi masyarakat yang jomplang dengan berbagai ketimpangan sosial yang terjadi. Kelimanya berusaha memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan (tentu saja) nilai moral yang kesemuanya berujung pada nilai teologis.

File:Nuh (Noah)1.png

Nuh hidup dimasa dimana stratifikasi sosial mulai menyengsarakan hidup kaum marjinal yang berstatus sosial rendah. Dia berteriak berjuang mewujudkan persamaan dan nilai kemanusiaan, mengangkat tangan menentang penguasa-penguasa yang menginjak-nginjak harga diri kaum marjinal. Padahal status-status dan posisi sosial rendah yang menjadi alasan ditindasnya mereka tidak pernah diharapkan oleh seluruh manusia. Menurut al-Qur’an 950 tahun Nuh berjuang (entah ini merupakan metafora al-Qur’an tentang masa perjuangan Nuh atau umur manusia zaman dahulu memang sangat lama). Dan selama perjuangannya Nuh mendapat 80 pengikut yang kesemuannya dselamatkan Tuhan dari air bah yang menggulung wilayah kaumnya.

File:Ibrahim (Abraham)1.png

Ibrahim hidup di masa kesewenang-wenangan Namrudz, raja Babilon yang sangat otoriter (untuk tidak menyebutnya sebagai tiran). Namrudz, seorang raja yang keji dan menganggap dirinya adalah yang berkuasa penuh terhadap hidup kaumnya. Ini dibuktikan dengan kesanggupannya membunuh seorang tahanan demi menunjukkan bahwa ia mampu mematikan orang. Namrudz juga merupakan Raja yang menggunakan agama berhalanya untuk memasung kebebasan berpikir di kalangan rakyatnya. Terbukti bagaimana ia memakai argumentasi teologis sebagai alasan untuk membakar Ibrahim. Ibrahim berjuang melawan raja ini dan melarikan diri dari wilayahnya untuk kemudian berpindah ke frame cerita seputar perjanjian Ibrahim, kelahiran Ishaq dan pengorbanan Ismail.

File:Musa (Moses)1.png

Musa mungkin adalah tokoh yang paling heroik dari kelima Rasul tersebut. Hampir sama dengan Ibrahim, Musa berjuang melawan Firaun sang penguasa Mesir (yang menurut data sejarah merujuk pada Ramses II). Bagaimana sang Firaun adalah seorang gila hormat. Raja ini adalah Raja yang memakai isu rasial untuk menindas bangsa lain. Ia menggunakan tenaga Bani Israil yang kala itu mempunyai satus sosial lebih rendah dari bangsa asli Mesir (Qibthiyyah) sebagai budak. Ia menggunakan argumen ini untuk membunuh bayi laki-laki bangsa Israel, memperlakukan mereka dengan tidak adil, dan menolak melepaskan mereka ketika Musa berinisiatif meminta Firaun membiarkan kaumnya pergi bersamanya. Menurut Perjanjian Lama, Firaun akhirnya merelakan mereka pergi setelah Tuhan ikut campur tangan dengan mengirim nyamuk, penyakit, katak, membunuh anak pertama kaum Mesir, dan merubah air sungai Nil menjadi darah. Namun di endingnya Firaun yang tidak mau kehilangan status quo nya berubah pikiran dan mengejar mereka. Jalan cerita selanjutnya tentu sudah diketahui dari cerita Al-Qur’an dan Perjanjian Lama. Berpindah frame menuju cerita pencarian identitas dan jati diri Israel; bahwa Israel diselamatkan, Tuhan mengambil perjanjian dengan mereka, turunnya sepuluh perintah Tuhan dan seterusnya.

File:Jesus Name in Arabic.gifSementara Isa hidup di masa penjajahan Romawi atas daerah Tanah Suci, khususnya Betlehem (bhs Ibrani; betel=rumah Tuhan). Isa berjuang melawan komersialisasi Rumah Ibadah yang dilakukan kaum peminta sedekah dari kalangan Yahudi (Farisi atau Saduki ya?lupa). Ia juga berusaha menyuarakan kondisi real masyarakatnya yang sebagian besar miskin, menyadarkan masyarakat Yahudi yang terlena dan merasa seolah tidak sedang dijajah (minus beberapa golongan gerilyawan yang tetap melakukan aksi perlawanan terhadap imperialisme Romawi kala itu), dan mencoba melawan hedonisme yang kala itu menghegemoni masyarakat Yahudi dan Romawi di wilayah Tanah Suci. Ia lebih memakai bentuk perjuangan moral daripada berhadapan vis a avis penguasanya. Bagaimana akhirnya gerakan moralnya bisa merebut hati ribuan massa dan dianggap berbahaya oleh kaum penguasa Romawi, khususnya gubernur di wilayah tersebut. Akhir ceritanya bercabang menurut al-Qur’an dan cerita biblikal. Al-Qur’an menyebut bahwa Isa diselamatkan dan diangkat oleh Tuhan, sementara Bible menunjukkan bahwa Isa disalib, mati di tiang salib untuk kemudian dibangkitkan kembali.

File:Dark vignette Al-Masjid AL-Nabawi Door800x600x300.jpg

Ulul Azmi terakhir adalah Muhammad, yang dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dalam perubahan dunia oleh Michael H. Hart. Ia hidup dari kalangan bangsawan miskin dengan status sosial tinggi yang kecewa dengan ketidak adilan yang terjadi di Makkah yang ketika itu memakai sistem kekuasaan Suku. Ia akhirnya bangkit memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan persamaan bagi seluruh manusia, khususnya di wilayah Makkah. Bagaimana ia memproklamirkan diri sebagai Nabi, menyerukan pemenuhan hak-hak kemanusiaan oleh warga Makkah, pemenuhan hak perempuan dan budak, menyeru pada perlunya dilaksanakan revolusi teologis dari polytheisme menuju monotheisme, menyerukan revolusi besar di bidang moral dan seterusnya. Selama 13 tahun ia ditentang oleh kaumnya terutama dari kalangan bangsawan yang menganggap sitem sosial baru yang ditawarkan Muhammad yang menetapkan stratifikasi lunak dan menjamin pemenuhan hak-hak kaum marjinal merupakan sistem yang sama sekali tidak menguntungkan mereka dan bahkan akan menurunkan status sosial mereka. Mereka yang tidak mau melepas status Quo nya akhirnya menentang Muhammad habis-habisan yang akhirnya gagal, hal ini mungkin disebabkan status sosial Muhammad yang berasal dari salah satu suku berpengaruh di Makkah. Bahkan pernah Muhammad dan pengikutnya dikucilkan dan diisolasi dari sumber pangan dan komunikasi dengan dunia luar selama 3 tahun. Muhammad hijrah ke Madinah dan memulai satu gerakan baru disana. Dengan kekuasaan yang ia miliki di sana, ia mulai bisa mempergunakan kekuatan militer untuk berusaha mewujudkan cita-citanya dan menciptakan persamaan, keadilan dan terlaksananya nilai kemanusiaan yang lebih adil bagi peradaban. Ia menjawab tantangan negara Makkah dengan beberapa konfrontasi fisik (perang Badar, Uhud, Khandaq) dan cara diplomatik (perjanjian Hudaibiyah). Kemudian ia membebaskan Makkah dari kekuasaan kaumnya dan menjadikan Madinah sebagai pusat peradaban dan pemerintahannya untuk kemudian mengajarkan ajarannya ke seluruh dunia.

Kelima Rasul tersebut melaksanakan revolusi sosial yeng berbeda-beda. Akan tetapi ada benang merah yang dapat ditarik dari kelima kisah mereka. Pertama, mereka adalah pejuang kemanusiaan yang mengedepankan humanitas, liberalitas dan freternitas sebagai nilai dasar perjuangannya (disamping tentu saja nilai teologis; monoteisme). Kedua, mereka tidaklah nyaman dengan kemapanan yang menyengsarakan salah satu komponen masyarakatnya walaupaun secara sosial mereka bisa saja diuntungkan dengan kondisi sosial yang ada. Ketiga mereka tidaklah takut dengan penguasa dikarenakan komitmen pada nilai-nilai teologis dan nilai-nilai humanis yang mereka yakini kebenarannya. Kelima, mereka mau dan berani keluar dari lingkaran pusat, baik itu wacana, ide maupun pemikiran yang sedang menguasai dan menghegemoni wilayahnya dan mendirikan satu payung pemikiran baru yang seringkali keluar dari mainstream yang ada. Mereka berusaha membebaskan diri dari kungkungan hegemoni di masanya. Berusaha menarik diri dan keluar dari arus pusat. Stigma kiri tentu akan dicap pada mereka. Namun bukan berarti mereka anti kemapanan, namun mereka menentang pemapanan nilai-nilai yang berujung pada usaha pemapanan status

Al-Quran dan Matematika

[Ini adalah tulisan lama saya yang sudah pernah saya publish di blogspot dan ikut saya boyong ke wordpress]


Ternyata artikel terkait matematika dan al-Quran sudah dibahas di wikipedia. Cek di sini


Tafsir bi al’-Ilmi

Al-Quran adalah “kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjizat), diturunkan kepada nabi Muhammad saw. penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan malaikat Jibril ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita dengan jalan mutawatir (oleh orang banyak), serta mempelajarinya bernilai ibadah, dimulai dengan al-Fatihah dan ditutup dengan Surat an-Naas, dan dalam pengertian lain ditambahkan kalimat “terpelihara dari setiap perobahan dan pergantian”.

https://i2.wp.com/19miracle.org/wp-content/uploads/2012/01/basmalah2.jpg

Diantara kemukjizatan al-Quran, antara lain adalah sifatnya yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Dimana ayat yang sering dirujuk adalah Surat Fusshilat ayat 3. Dalam ayat tersebut, Allah

memberikan suatu statemen, bahwa dalam seluruh ciptaan-Nya, Allah memperlihatkan segenap tanda kekuasaan-Nya disetiap penjuru alam, bahkan dalam diri kita sendiri pun terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Dari sini muncul suatu metode penafsiran al-Quran yaitu tafsir bi al-’ilmi. Tafsir ini sebenarnya merupakan pengembangan dari tafsir bi ar-ro’yu (tafsir diroyah). Tafsir ini bertitik-tolak dari pendapat sang mujtahid dan tidak berdasarkan pada hal-hal yang dinukilkan dari sahabat dan tabi’in.

Tafsir bi al-’ilmi merupakan bentuk tafsir yang dipengaruhi oleh temuan-temuan keilmuan mutakhir. Tafsir ini secara sederhana dapat diartikan sebagai cara memahami al-Quran dengan penemuan-penemuan sains modern. Tafsir jenis ini berorientasi pada ayat-ayat al-Quran yang bersifat kealaman (ayat-ayat kauniyah), sehingga menuntut seorang mujtahid bekerja keras mengungkap hubungan antara ayat-ayat tersebut agar dapat memperlihatkan kemu’jizatan al-Quran.

Banyak pendapat yang bermunculan dalam menyikapi kehadiran tafsir jenis ini. Di satu sisi, banyak pendapat yang mendukung kehadiran tafsir jenis ini. Memang kehadiran tafsir ini merupakan jawaban dari kemunduran yang dialami umat Islam dalam hal ilmu pengetahuan. Sebenarnya, tafsir ini sendiri sudah muncul sejak zaman Abbasiyah saat aliran muktazilah berkuasa. Dan akhirnya tafsir ini kembali menggeliat setelah melihat kemunduran dan stagnansi yang dialami ilmu pengetahuan Islam.

Argumen yang diungkapkan pendukung tafsir model ini, adalah ayat-ayat yang memerintahkan manusia memakai dan menggunakan segenap kemampuan akalnya untuk memikirkan ciptaan Allah. Antara lain dalam Surat Ali Imran yang didalamnya terdapat istilah ulul albab sebagai orang-orang yang mau memikirkan ciptaan Allah. Argumen lain adalah ayat yang mencela orang-orang yang hanya memngikuti nenek moyangnya (taklid) tanpa mencari inovasi baru dalam hidup.

Di sisi lain, pihak yang menolak tafsir model ini memakai argumen, bahwa sesungguhnya tafsir model seperti ini hanya membuat-buat penafsiran al-Quran, dimana terdapat ancaman dari Nabi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, yang artinya kurang lebih:

“… Dan barangsiapa menafsirkan al-Quran menurut pendapatnya (ro’yu) nya maka hendaknya ia bersedia menempatkan diri di neraka pula”.

Mereka juga memakai argumen surat al-Baqarah ayat 169 dan surat an-Nahl ayat 44 yang menjelaskan bahwa selain dari Rasulullah, tidak ada yang berhak menafsirkan al-Qur’an. Bagi kelompok ini, al-Quran adalah kitab tasyri’, bukan kitab yang diturunkan untuk ilmu pengetahuan.

Memang, bila kita analisis lebih mendalam, bagaimana sebuah teori ilmiah modern yang bersifat nisbi, relatif dan bisa saja berubah sewaktu-waktu, dapat digunakan untuk menafsirkan ayat al-Quran yang mutlak kebenarannya. Apalagi fakta bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang dipergunakan sebagai dasar penafsiran ayat-ayat tersebut adalah orang-orang Barat, dimana sangat dimungkinkan faham-faham mereka yang bertentangan dengan Islam ikut teradopsi.

Tafsir bi al’-ilmi yang sering dikritik memakai pendekatan ilmu-ilmu pengetahuan seperti fisika, biologi dan disiplin ilmu lain yang semuanya memakai dasar logika induktif. Observasi yang memakai metode ilmiah yang menekankan pentingnya peragaan percobaan dipergunakan untuk menyusun sebuah teori. Penyelidikan ilmiah oleh berbagai macam disiplin ilmu tersebut menekankan sikap empirik, dan bersandar pada percobaan yang mantap. Dorongan untuk melakukan percobaan ilmiah secara empirik tersebut mula-mula ditekankan oleh Galileo Galilei (1564-1642).

Contoh penafsiran bi al-’ilmi antara lain adalah konsep terbentuknya alam semesta memakai teori big bang yang dihubungkan dengan Surat al-Anbiya’ ayat 30, jumlah selaput rahim yang dihubungkan dengan Surat az-Zumar ayat 6, penyerbukan tumbuhan oleh angin yang dihubungkan dengan Surat al-Hijr ayat 22, dan lain sebagainya, yang semuanya terhubung dengan ayat al-Quran.

Yang menjadi permasalahan adalah pernyataan-pernyataan mufassir bi al-’ilmi seolah memaksa al-Quran agar terhubung dengan ilmu pengetahuan. Seperti pernyataan bahwa zarrah dalam Surat Yunus ayat 61 merujuk pada atom.

Ada pula penafsiran-penafsiran yang sampai pada kesimpulan yang bertentangan dengan doktrin Islam yang diyakini oleh mayoritas muslim. Contohnya Agus Mustofa, seorang pengarang yang menulis buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”. Di dalam bukunya, beliau mengungkapkan argumen-argumen ilmiah, berupa teori-teori fisika yang menguatkan pendapatnya bahwa akhirat tidaklah kekal seperti yang diyakini oleh mayoritas muslim saat ini.

Inilah yang menyebabkan tafsir bi al-’ilmi dikritik, bahwa kebenaran tafsir ini tidak kekal. Kenapa? Karena penarikan kesimpulan dari ilmu pengetahuan menggunakan cara generalisasi terhadap beberapa fakta yang ada. Memakai beberapa observasi yang seolah mewakili seluruh keadaan jagat raya ini.

Sifat ilmu pengetahuan sendiri selalu berevolusi dari waktu ke waktu. Ambil kasus planet Pluto, selama kurang lebih 70 tahun, Pluto dianggap sebagai bagian tata surya, namun belum lama ini Pluto didepak dari keanggotaan tata surya, dan diklasifikasikan sebagai benda langit biasa yang sejenis dengan asteroid.

Matematika

Apakah matematika itu? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan berbagai macam jawaban, tergantung bilamana pertanyaan itu dijawab, dimana dijawab, siapa yang menjawab, dan apa saja yang dipandang sebagai “matematika” oleh si penjawab.

Begitu banyak pendapat muncul dalam pendefinisian matematika. Ada yang mengatakan matematika sebagai bahasa simbol, matematika metode berpikir logis, matematika adalah sains mengenai kuantitas dan besaran, matematika adalah sains yang memanipulasi simbol, dan lain sebagainya.

Istilah mathematics (Inggris) berasal dari bahasa Yunani mathematike yang bermakna “relating to learning”. Berasal dari akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu, dan berhubungan erat dengan kata mathanein yang berarti belajar (berpikir).

Dipandang dari sudut etimologis, perkataan matematika berarti “ilmu yang diperoleh dengan bernalar”. Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, diproses dalam struktur kognitif dan akhirnya disimpulkan dalam konsep matematika.

Matematika mempunyai tiga sifat, yaitu deduktif, terstruktur, serta berfungsi sebagai ratu sekaligus pelayan ilmu. Penekanan yang diambil oleh makalah ini adalah sifat metematika sebagai ilmu dengan penalaran deduktif.

Sebagai ilmu deduktif, matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan. Walaupun dalam matematika, kebenaran bisa dimulai secara induktif. Namun kebenaran generalisasi yang diambil harus bisa dibuktikan secara deduktif. Logika deduktiflah yang dipakai dan hukum-hukum logika dalam matematika menspesifikasikan makna dalam pernyataan matematis, Contohnya adalah jika kita mengatakan bahwa seluruh bilangan genap habis dibagi dua, maka kita harus mampu mebuktikannya untukkeseluruhan bilangan genap, walaupun sebelumnya kita mengambil suatu aksioma berupa pernyataan bahwa 2n adalah bilangan genap.

Pembuktian Al-Quran dengan Matematika

Al-Quran, seluruh isinya adalah merupakan mukjizat. Simbol-simbol maknanya, yaitu lafaz-lafaznya juga merupakan mukjizat. Untuk mebuktikan kemukjizatan al-Quran, dilakukan berbagai cara, salah satunya dengan menghubungkan al-Quran dengan ilmu pengetahuan yang ada.

Dalam pembuktian al-Quran dengan tafsir bi al-’ilmi, ditemukan banyak kelemahan, yang salah satunya disebabkan karena logika yang dipakai oleh ilmu pengetahuan kebanyakan adalah logika induktif. Lalu bagaimana dengan pengungkapan mukjizat al-Quran dengan memakai pendekatan matematika?

Al-Quran banyak mendorong manusia untuk memperhatikan, berfikir, memahami dan menggunakan akal. Dalam penciptaan langit dan bumi, berjalannya kehidupan, dan seluruh ciptaan Allah yang lain, terdapat keteraturan perhitungan yang luar biasa. Dan semuanya dalam satuan angka.

Angka adalah ruh dari matematika, sebuah bahasa murni ilmu pengetahuan (lingua pura) yang menjadi bahasa universal dan diyakini oleh Carl Sagan, seorang fisikawan, sebagai bahasa universal alam semesta. Matematika bukan ciptaan manusia-manusia berintelegensi tinggi seperti Euclid, Pythagoras ,Archimedes, al-Khawarizmie, Galileo, Kepler, ataupun Stephen Hawking. Matematikawan tidaklah menciptakan matematika, namun mereka menemukan adanya aturan atau persamaan matematika dalam segala hal yang diciptakan oleh Allah.

Apa hubungan matematika dengan al-Quran? Peerlu kita tahu, bahwa salah satu jenis mukjizat dari al-Quran adalah i’jaz ‘adadi (mu’jizat yang bersifat bilangan). Fenomena ini sudah banyak dipelajari oleh ulama-ulama terdahulu dan bahkan sampai sekarang pun masih banyak dipelajari oleh para ulama.

I’jaz ‘adadi inilah yang kemudian dirujuk sebagai sebuah pendekatan pembuktian mukjizat baru, yaitu dengan ilmu matematika. Seperti yang dilakukan A. Salma Alif Sampayya, Abu Zahra an-Najdi dan lain sebagainya.

Cara pembuktian kemukjizatan al-Quran seperti ini sangat unik. Diantaranya ditemukannya keseimbangan jumlah kata syahr (bulan) sebanyak 12 kali, jumlah kata sholawat (jama’ dari sholat) adalah lima, ad-dunya dan al-akhiroh yang sama-sama disebut 115 kali, dan lain sebagainya.

Apalagi pemakaian komputer untuk menghitung jumlah kata-kata dalam al-Quran, nilai numerik suatu kata, prosentase suatu kalimah terhadap keseluruhan al-Quran serta penemuan angka 19 sebagai angka kunci untuk memahami kombinasi-kombinasi angka dalam al-Quran, semuanya makin memantapkan penggunaan i’jaz ‘adadi dalam pembuktian kemukjizatan al-Quran.

Samakah pembuktian kemukjizatan al-Quran dengan sains non-matematik dan matematik? Tentu saja berbeda.

Matematika membuktikan kebenaran al-Quran bukan dengan observasi terhadap alam, namun dengan cara mencari titik temu dan keseimbangan bilangan dalam al-Qur’an. Matematika tidak mengenal pengamatan secara ilmiah pada alam semesta untuk memahami kemukjizatan al-Quran. Berbeda dengan Fisika, Biologi dan Geografi yang membuktikan kemukjizatan al-Quran dengan pengamatan terhadap alam semesta, baru kemudian “menghubungkan”nya dengan al-Qur’an.

Matematika hanya membutuhkan al-Qur’an itu sendiri. Matematika hanya membutuhkan data ‘berapa jumlah kata yaum?’, ‘berapa jumlah huruf dalam kalimah bismillahirrohmanirrohiim?’, ‘berapa nomor urut Surat an-Nuur dalam mushaf?’ dan lain sebagainya. Dari situ, dilakukan suatu permutasi, kombinasi dan operasi aritmatika lain yang nantinya akan menunjukkan sebuah keajaiban. Proses pembuktiannya yang murni memakai nalar dan bersumber dari al-Quran itu sendiri, membuat matematika Quran sungguh menakjubkan dan jauh dari kontroversi. Sifat matematika sendiri yang tidak membutuhkan observasi juga makin meyakinkan bahwa matematika Quran memang benar.

Namun, pembuktian al-Quran dengan cara ini, juga kadang dipakai seseorang untuk mendukung pendapatnya. Ambil contoh Rasyid Khalifa yang mengambil kesimpulan bahwa 2 ayat terakhir Surat at-Taubah harus dikeluarkan dari al-Quran karena “mengacaukan komposisi matematis al-Qur’an”. Pembuktian kemu’jizatan al-Quran dengan matematika juga menjadi alat penyebaran dogma dan keyakinan yang dianut oleh seorang ilmuwan. Seperti yang dilakukan Abu Zahra’ an Najdi yang mencoba mendukung faham-faham kaum Syi’ah dengan argumen matematisnya.

Mencabut Baterai Laptop?

[Ini adalah tulisan lama saya yang sudah pernah saya publish di blogspot dan ikut saya boyong ke wordpress]


Percaya ndak percaya, banyak wacana baru yang saya dapatkan setelah beli laptop baru. Kenyataannya, wacana-wacana tersebut banyak yang bertolak belakang dengan hal-hal yang sudah dipercayai kawan-kawan di sekitar penulis.

Hal pertama yang ingin saya bahas di sini adalah tips perawatan baterai laptop. Mitos* yang berkembang di lingkungan penulis adalah “Lepas baterai laptop ketika menggunakan laptop dalam waktu yang relatif lama supaya baterai tidak bocor”.

Alasan dari pendapat tersebut adalah agar baterai tahan lama karena penggunaan baterai diminimalisir.

Namun ternyata setelah googling, saya dapati bahwa banyak pendapat yang mengatakan hal tersebut kurang tepat (untuk tidak mengatakan salah). Karena jika kita melepas baterai, otomatis yang sumber arus yang dipakai oleh laptop kita adalah arus PLN. Kalau tiba-tiba listrik mati (bahasa Jawa-nya oglangan), maka laptop-pun akan mati mendadak. Dikhawatirkan “kematian mendadak” ini mengakibatkan konsleting (hubungan arus pendek) pada komponen di dalam laptop (motherboard, RAM, prosesor, misalnya). Tentu kita lebih memilih rusak baterai daripada rusak motherboard (pengennya sih nggak rusak semua ya? hehe). Memang sih, kita bisa menggunakan UPS untuk mencegah “kematian mendadak” ketika kita menggunakan laptop tanpa baterai. Tapi kalau saya pribadi memilih memakai baterai, daripada membeli UPS yang harganya 300 ribuan … (bilang aja ndak ada duit. hehe), Sedikit mengingatkan bahwa baterai laptop merupakan mekanisme pertahanan adanya pemutusan arus suplai listrik (mendadak) pada laptop seperti halnya UPS pada PC

Alasan lain, kenapa saya tidak mengikuti pendapat tersebut adalah kenyataan bahwa baterai laptop zaman sekarang sudah berjenis lithium baterai yang kabarnya sudah punya fitur pemutusan arus charge otomatis. Dan ketika saya baca manual petunjuk laptop saya (merk laptop saya DELL), saya dapati bahwa baterai laptop saya memiliki kemampuan tersebut (baca di sini). Sedikit mengutip pendapat dalam tanya jawab di yahoo!answer bahwa “Secara teknis baterai, memiliki umur pakai, tergantung jenisnya. saya rasa pabrik pembuat laptop sudah mempersiapkan itu semua. ikuti saja prosedur pemakaian yang ada pada buku panduan. jika buku panduan mengharuskan mengecas sekian jam pada awal pemakaian ikuti saja, jika tidak ya jangan.

Apalagi ada larangan dari beberapa post di kaskus dan indowebster untuk tidak melakukan charging and discharging, Semakin sering kita melakukan Charge Discharge (CdC), semakin cepat pula cycle count terpakai, dan efek dari semakin besarnya cycle count akan mengakibatkan backup time battery semakin rendah. Referensi charging dan discharging bisa dilihat di sini

Berkenaan dengan baterai laptop, sekali lagi semuanya terserah anda, mau ikut yang mana. Karena banyak sekali kontroversi seputar baterai laptop. Hidup adalah pilihan… dan silahkan memilih… hehehe…


Update: sekarang saya menggunakan laptop merk Fujitsu, dan sesuai yang saya sampaikan, saya mengalami bahwa baterai akan lebih awet jika sering tercolok listrik.