Embedding Video di Blog

Mari belajar meng-embed video youtube di posting wordpress kita.

  1. Pilih sebuah video dari youtube. Saya pilih dua buah video yang kira-kira pas untuk saya taruh di posting saya.
  2. Buka url video yang kita inginkita embed
  3. Klik kanan pada video tersebut
  4. Pilih copy embed code 
  5. Masuk ke dashboard wordpress, dan pilih Post => Add New
  6. Tulis posting seperti biasa
  7. Paste-kan embed code di tempat yang anda inginkan di posting-an anda
  8. Publish seperti biasa
  9. Kita lihat hasilnya
  • Ini videonya Nusron Wahid   😎
  • Yang ini video anak-anak manggung nyanyi di MAPSI   🙄

Thats all …   :mrgreen:

Advertisements

(ternyata) Beragamapun memakai logika

Keriuhan para “ahli agama” yang sedang sibuk “menafsirkan” Surat Al-Maidah untuk “mendukung” Cagub masing-masing di Pilkada DKI , mengingatkan saya pada bahan diskusi di Mata Kuliah Al-Quran waktu saya kuliah di Prodi Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Radhiyallahu ‘anhu” (رضي الله عنه) -disingkat RA.- adalah kalimat yang sering kita dengar mengiringi penyebutan nama-nama orang yang dihormati, seperti para sahabat dan para ulama (ex: Abu Bakar RA. Umar RA., Usman RA., Imam Syafii RA., Ahmad Dahlan RA., Hasyim Asyari RA. dlsb.). Arti dari gelar tersebut kurang lebih adalah “Allah meridlainya”. Pernahkan kita berpikir, mengapa mereka diberikan gelar tersebut, mengapa bukan gelar lain? Apakah Al-Quran melegitimasi gelar RA untuk tokoh-tokoh tersebut?

Logika simbolik bisa menjawab pertanyaan tersebut. Berikut penjelasannya.

Kita tentu sangat familiar dengan kutipan ini ketika bersekolah dahulu:

  • Semua manusia pasti mati
  • Socrates adalah seorang manusia
  • Kesimpulan: Socrates pasti mati

Apakah kesimpulan tersebut sah secara logis? Mari kita telaah satu persatu.

Misalkan predikat manusia dilambangakan dengan M, predikat mati dilambangkan dengan T, dan subjek Socrates dilambangkan dengan s.

Kita dapat mengonversi argumen tersebut menjadi:

  • \forall x \left( M\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  • M\left( s \right)
  • / \therefore T\left( s \right)

Menggunakan aturan Instansiasi Umum dan Modus Ponens, kita akan mendapatkan:

  1. \forall x\left( M\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  2. M\left( s \right)                   / \therefore T\left( s \right)
  3. M\left( s \right)\to T\left( s \right)               (1 Instansiasi Umum)
  4. T\left( s \right)                   (3,2 Modus Ponens)

Kesimpulannya, kesimpulan bahwa “Socrates pasti mati” adalah sah.

Selanjutnya kita kembali ke masalah “radhiyallahu anhu” tadi.

Dalam al-Quran kita dapat menemukan ayat

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Perhatikan penggalan

  إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

Secara latin ditulis “Innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadihil ulamaau” (dengan merofa’kan hamzah pada الْعُلَمَاء; dan menashabkan ha pada اللَّه ) dapat diartikan kurang lebih (والله اعلم بمراده, saya nyomot dari terjemahan online) Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. So, kita simpan premis ini terlebih dahulu.

Selanjutnya, di akhir Surat Al-Bayyinah, kita bisa menemukan ayat

جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Perhatikan penggalan

رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Secara latin ayat tersebut ditulis “Radliyallahu anhum wa radluu ‘anhu dzaalika liman khasyiya rabbahu”. Artinya kurang lebih (والله اعلم بمراده , saya nyomot dari terjemahan online) adalah Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”. Simpan premis ini.

Selanjutnya kita perlu membahas definisi “ulama” yang ada pada premis pertama. ‘Ulamaa (الْعُلَمَاء) secara literal merupakan bentuk jamak dari isim faa’il عالم (‘aalim) yang artinya adalah orang yang berilmu. Kita sepakati dulu, bahwa orang-orang sholeh seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Imam Syafii, Imam Hanafi, Ahmad Dahlan, dan Hasyim Asyari merupakan orang-orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi (yang pastinya lebih tinggi daripada ilmu yang penulis punya). So, kita bisa simpulkan bahwa tokoh-tokoh tersebut merupakan orang yang ‘aalim, sehingga mereka bisa kita kategorikan sebagai bagian dari ‘ulamaa.

Langkah selannjutnya, demi kemudahan kita dalam mengutak-atik logika simbolik, kita merubah premis yang kita punya menjadi premis yang mudah disimbolkan.

  • Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” saya rubah menjadi bentuk “Setiap ulama takut pada Allah“.
  • Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” saya rubah menjadi bentuk “Semua orang yang takut pada Allah akan diridlai oleh Allah“.

Ambil permisalan: predikat ulama adalah U, predikat takut pada Allah kita simbolkan T, predikat diridlai oleh Allah diberi simbol R. Maka premis yang kita punya akan menjadi:

  • \forall x \left( U\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  • \forall x \left( T\left( x \right)\to R\left( x \right) \right)

Next, kita ambil salah satu dari kumpulan orang sholeh yang sudah kita sebutkan tadi. Ambil contoh Imam Syafii. Kita simbolkan subjek Imam Syafii dengan simbol s. Sebelumnya kita sudah sepakat di atas bahwa beliau adalah orang yang tinggi ilmu agamanya, sehingga beliau termasuk orang yang ‘alim, dan termasuk golongan ‘ulamaa. Dari sini kita mendapatkan:

  • U \left( s \right)             [dibaca: Imam Syafii berpredikat ulamaa]

Kita ingin menyimpulkan bahwa Imam Syafii layak mendapat gelar “Radliyallahu ‘anhu” -diridlai oleh Allah-, sehingga kitatulis:

  • R \left( s \right)            [dibaca: Imam Syafii diridlai Allah]

Secara keseluruhan kita memiliki argumen:

  1. \forall x \left( U\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  2. \forall x \left( T\left( x \right)\to R\left( x \right) \right)
  3. U \left( s \right)                            / \therefore R\left( s \right)

Selanjutnya kita bisa menggunakan aturan-aturan dalam logika simbolik untuk membuktikan bahwa kesimpulan “Imam Syafii diridlai Allah” adalah sah.

  1. \forall x \left( U\left( x \right)\to T\left( x \right) \right)
  2. \forall x \left( T\left( x \right)\to R\left( x \right) \right)
  3. U \left( s \right)                             / \therefore R\left( s \right)
  4. U\left( s \right)\to T\left( s \right)           (1, Instansiasi Umum)
  5. T\left( s \right)\to R\left( s \right)           (2, Instansiasi Umum)
  6. T\left( s \right)              (4, 3 Modus Ponens)
  7. R\left( s \right)              (5, 6 Modus Ponens)

Disimpulkan bahwa argumen kita adalah sah, yang berarti bahwa gelar “Allah meridlainya” bagi Imam Syafii adalah sah. “Sah” karena diturunkan dari premis-premis yang diambil dari Al-Quran dan disimpulkan menggunakan aturan logika yang berlaku.

Tabik

Muhammad Zuhair Zahid