Renungan tentang Khawarij

Satu pagi, saat sarapan dengan istri

Aku : “Dek, ada postingan teman yg cukup menarik, katanya, sepanjang sejarah peradaban Islam, dari zaman Nabi sampai zaman sekarang, semua aliran dan madzhab dalam Islam berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, kecuali Khawarij …”

Istri : terus?

Aku : tak pikir-pikir bener juga itu, mulai dari Imam Fiqih yang empat, Imam Hadis yang sembilan, Ahlussunnah-Asyariyah maupun Maturidiyah yang sumbangan keilmuan dalam ilmu kalam, komentar2 syarah thdp hadis nya luar biasa, kaum Mutazilah berperan besar thd kemajuan ilmu logika, filsafat, kedokteran, matematika, dll, kamu Sufi punya peran dalam dinamika “permusuhan keilmuan” dg filosof via perang “dua kitab tahafut”, Syiah berperan besar dlm munculnya Univ. Al-Azhar, pun fiqih Jafari dalam Syiah adl madzhab yg cukup signifikan dipertimbangkan dalam keilmuan, Ibn Taimiyah & Ibn Qoyyim juga cukup diperhitungkan dalam diskursus keilmuan Islam, bahkan Wahabi pun punya Utsaimin walaupun sering kontroversial, tapi sumbangan keilmuannya ada, minimal kitab karangannya itu ada.

Istri : (manggut-manggut)

Aku : Lha nak khowarij? Gak ono sumbangan blas deh sak elingku…

Istri : (nyimak karo nyendok sego) maklum to mas… mereka kan ‘aabid, bukan ‘aalim

Aku : (deg … mak tratap … mikir keras … lama-lama mengangguk setuju) bener juga yo …

Sayyidina Ali sek “baabu madiinatil ilmi” ae dipateni, mergo jare “laa hukma illa hukmallah” …

Yang membunuh adalah orang yang dikabarkan sangat ahli Ibadah, Qaari’ Al-Quran yang fasih, dan lain-lain.

Tapi yang dibunuh … ah, siapa dia yang dibunuh, orang yang paling awal masuk Islam dari golongan pemuda, yang berarti, ia adalah pemeluk Islam terlama dibandingkan orang lain yang hidup saat itu, orang yang digelari sendiri oleh Nabi sebagai “pintu kota ilmu”, satu-satunya orang yang kepadanya dan istrinya jalur keturunan Nabi dilanjutkan …

Ibn Muljam, si pembunuh Ali yang ahli ibadah itu mungkin merasa lebih baik dan lebih suci dibandingkan Ali

Dan saat ini di medsos banyak yang seperti itu, Berani menyalahkan orang-orang alim yang penguasaan literatur keilmuan-keislamannya tidak diragukan lagi. Orang-orang yang semangat beragamanya tinggi, namun tidak diimbangi dengan pengetahuan agama yang mencukupi, ‘aabid tapi tidak ‘aalim.

Saya jelas tidak masuk kategori tersebut. Pengetahuan agama saya kan pas-pasan, semangat ngibadah saya juga pas-pasan . Sehingga saya bukan ‘aalim, plus bukan ‘aabid.