Al-Quran dan Matematika

[Ini adalah tulisan lama saya yang sudah pernah saya publish di blogspot dan ikut saya boyong ke wordpress]


Ternyata artikel terkait matematika dan al-Quran sudah dibahas di wikipedia. Cek di sini


Tafsir bi al’-Ilmi

Al-Quran adalah “kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjizat), diturunkan kepada nabi Muhammad saw. penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan malaikat Jibril ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita dengan jalan mutawatir (oleh orang banyak), serta mempelajarinya bernilai ibadah, dimulai dengan al-Fatihah dan ditutup dengan Surat an-Naas, dan dalam pengertian lain ditambahkan kalimat “terpelihara dari setiap perobahan dan pergantian”.

https://i2.wp.com/19miracle.org/wp-content/uploads/2012/01/basmalah2.jpg

Diantara kemukjizatan al-Quran, antara lain adalah sifatnya yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Dimana ayat yang sering dirujuk adalah Surat Fusshilat ayat 3. Dalam ayat tersebut, Allah

memberikan suatu statemen, bahwa dalam seluruh ciptaan-Nya, Allah memperlihatkan segenap tanda kekuasaan-Nya disetiap penjuru alam, bahkan dalam diri kita sendiri pun terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Dari sini muncul suatu metode penafsiran al-Quran yaitu tafsir bi al-’ilmi. Tafsir ini sebenarnya merupakan pengembangan dari tafsir bi ar-ro’yu (tafsir diroyah). Tafsir ini bertitik-tolak dari pendapat sang mujtahid dan tidak berdasarkan pada hal-hal yang dinukilkan dari sahabat dan tabi’in.

Tafsir bi al-’ilmi merupakan bentuk tafsir yang dipengaruhi oleh temuan-temuan keilmuan mutakhir. Tafsir ini secara sederhana dapat diartikan sebagai cara memahami al-Quran dengan penemuan-penemuan sains modern. Tafsir jenis ini berorientasi pada ayat-ayat al-Quran yang bersifat kealaman (ayat-ayat kauniyah), sehingga menuntut seorang mujtahid bekerja keras mengungkap hubungan antara ayat-ayat tersebut agar dapat memperlihatkan kemu’jizatan al-Quran.

Banyak pendapat yang bermunculan dalam menyikapi kehadiran tafsir jenis ini. Di satu sisi, banyak pendapat yang mendukung kehadiran tafsir jenis ini. Memang kehadiran tafsir ini merupakan jawaban dari kemunduran yang dialami umat Islam dalam hal ilmu pengetahuan. Sebenarnya, tafsir ini sendiri sudah muncul sejak zaman Abbasiyah saat aliran muktazilah berkuasa. Dan akhirnya tafsir ini kembali menggeliat setelah melihat kemunduran dan stagnansi yang dialami ilmu pengetahuan Islam.

Argumen yang diungkapkan pendukung tafsir model ini, adalah ayat-ayat yang memerintahkan manusia memakai dan menggunakan segenap kemampuan akalnya untuk memikirkan ciptaan Allah. Antara lain dalam Surat Ali Imran yang didalamnya terdapat istilah ulul albab sebagai orang-orang yang mau memikirkan ciptaan Allah. Argumen lain adalah ayat yang mencela orang-orang yang hanya memngikuti nenek moyangnya (taklid) tanpa mencari inovasi baru dalam hidup.

Di sisi lain, pihak yang menolak tafsir model ini memakai argumen, bahwa sesungguhnya tafsir model seperti ini hanya membuat-buat penafsiran al-Quran, dimana terdapat ancaman dari Nabi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, yang artinya kurang lebih:

“… Dan barangsiapa menafsirkan al-Quran menurut pendapatnya (ro’yu) nya maka hendaknya ia bersedia menempatkan diri di neraka pula”.

Mereka juga memakai argumen surat al-Baqarah ayat 169 dan surat an-Nahl ayat 44 yang menjelaskan bahwa selain dari Rasulullah, tidak ada yang berhak menafsirkan al-Qur’an. Bagi kelompok ini, al-Quran adalah kitab tasyri’, bukan kitab yang diturunkan untuk ilmu pengetahuan.

Memang, bila kita analisis lebih mendalam, bagaimana sebuah teori ilmiah modern yang bersifat nisbi, relatif dan bisa saja berubah sewaktu-waktu, dapat digunakan untuk menafsirkan ayat al-Quran yang mutlak kebenarannya. Apalagi fakta bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang dipergunakan sebagai dasar penafsiran ayat-ayat tersebut adalah orang-orang Barat, dimana sangat dimungkinkan faham-faham mereka yang bertentangan dengan Islam ikut teradopsi.

Tafsir bi al’-ilmi yang sering dikritik memakai pendekatan ilmu-ilmu pengetahuan seperti fisika, biologi dan disiplin ilmu lain yang semuanya memakai dasar logika induktif. Observasi yang memakai metode ilmiah yang menekankan pentingnya peragaan percobaan dipergunakan untuk menyusun sebuah teori. Penyelidikan ilmiah oleh berbagai macam disiplin ilmu tersebut menekankan sikap empirik, dan bersandar pada percobaan yang mantap. Dorongan untuk melakukan percobaan ilmiah secara empirik tersebut mula-mula ditekankan oleh Galileo Galilei (1564-1642).

Contoh penafsiran bi al-’ilmi antara lain adalah konsep terbentuknya alam semesta memakai teori big bang yang dihubungkan dengan Surat al-Anbiya’ ayat 30, jumlah selaput rahim yang dihubungkan dengan Surat az-Zumar ayat 6, penyerbukan tumbuhan oleh angin yang dihubungkan dengan Surat al-Hijr ayat 22, dan lain sebagainya, yang semuanya terhubung dengan ayat al-Quran.

Yang menjadi permasalahan adalah pernyataan-pernyataan mufassir bi al-’ilmi seolah memaksa al-Quran agar terhubung dengan ilmu pengetahuan. Seperti pernyataan bahwa zarrah dalam Surat Yunus ayat 61 merujuk pada atom.

Ada pula penafsiran-penafsiran yang sampai pada kesimpulan yang bertentangan dengan doktrin Islam yang diyakini oleh mayoritas muslim. Contohnya Agus Mustofa, seorang pengarang yang menulis buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”. Di dalam bukunya, beliau mengungkapkan argumen-argumen ilmiah, berupa teori-teori fisika yang menguatkan pendapatnya bahwa akhirat tidaklah kekal seperti yang diyakini oleh mayoritas muslim saat ini.

Inilah yang menyebabkan tafsir bi al-’ilmi dikritik, bahwa kebenaran tafsir ini tidak kekal. Kenapa? Karena penarikan kesimpulan dari ilmu pengetahuan menggunakan cara generalisasi terhadap beberapa fakta yang ada. Memakai beberapa observasi yang seolah mewakili seluruh keadaan jagat raya ini.

Sifat ilmu pengetahuan sendiri selalu berevolusi dari waktu ke waktu. Ambil kasus planet Pluto, selama kurang lebih 70 tahun, Pluto dianggap sebagai bagian tata surya, namun belum lama ini Pluto didepak dari keanggotaan tata surya, dan diklasifikasikan sebagai benda langit biasa yang sejenis dengan asteroid.

Matematika

Apakah matematika itu? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan berbagai macam jawaban, tergantung bilamana pertanyaan itu dijawab, dimana dijawab, siapa yang menjawab, dan apa saja yang dipandang sebagai “matematika” oleh si penjawab.

Begitu banyak pendapat muncul dalam pendefinisian matematika. Ada yang mengatakan matematika sebagai bahasa simbol, matematika metode berpikir logis, matematika adalah sains mengenai kuantitas dan besaran, matematika adalah sains yang memanipulasi simbol, dan lain sebagainya.

Istilah mathematics (Inggris) berasal dari bahasa Yunani mathematike yang bermakna “relating to learning”. Berasal dari akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu, dan berhubungan erat dengan kata mathanein yang berarti belajar (berpikir).

Dipandang dari sudut etimologis, perkataan matematika berarti “ilmu yang diperoleh dengan bernalar”. Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, diproses dalam struktur kognitif dan akhirnya disimpulkan dalam konsep matematika.

Matematika mempunyai tiga sifat, yaitu deduktif, terstruktur, serta berfungsi sebagai ratu sekaligus pelayan ilmu. Penekanan yang diambil oleh makalah ini adalah sifat metematika sebagai ilmu dengan penalaran deduktif.

Sebagai ilmu deduktif, matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan. Walaupun dalam matematika, kebenaran bisa dimulai secara induktif. Namun kebenaran generalisasi yang diambil harus bisa dibuktikan secara deduktif. Logika deduktiflah yang dipakai dan hukum-hukum logika dalam matematika menspesifikasikan makna dalam pernyataan matematis, Contohnya adalah jika kita mengatakan bahwa seluruh bilangan genap habis dibagi dua, maka kita harus mampu mebuktikannya untukkeseluruhan bilangan genap, walaupun sebelumnya kita mengambil suatu aksioma berupa pernyataan bahwa 2n adalah bilangan genap.

Pembuktian Al-Quran dengan Matematika

Al-Quran, seluruh isinya adalah merupakan mukjizat. Simbol-simbol maknanya, yaitu lafaz-lafaznya juga merupakan mukjizat. Untuk mebuktikan kemukjizatan al-Quran, dilakukan berbagai cara, salah satunya dengan menghubungkan al-Quran dengan ilmu pengetahuan yang ada.

Dalam pembuktian al-Quran dengan tafsir bi al-’ilmi, ditemukan banyak kelemahan, yang salah satunya disebabkan karena logika yang dipakai oleh ilmu pengetahuan kebanyakan adalah logika induktif. Lalu bagaimana dengan pengungkapan mukjizat al-Quran dengan memakai pendekatan matematika?

Al-Quran banyak mendorong manusia untuk memperhatikan, berfikir, memahami dan menggunakan akal. Dalam penciptaan langit dan bumi, berjalannya kehidupan, dan seluruh ciptaan Allah yang lain, terdapat keteraturan perhitungan yang luar biasa. Dan semuanya dalam satuan angka.

Angka adalah ruh dari matematika, sebuah bahasa murni ilmu pengetahuan (lingua pura) yang menjadi bahasa universal dan diyakini oleh Carl Sagan, seorang fisikawan, sebagai bahasa universal alam semesta. Matematika bukan ciptaan manusia-manusia berintelegensi tinggi seperti Euclid, Pythagoras ,Archimedes, al-Khawarizmie, Galileo, Kepler, ataupun Stephen Hawking. Matematikawan tidaklah menciptakan matematika, namun mereka menemukan adanya aturan atau persamaan matematika dalam segala hal yang diciptakan oleh Allah.

Apa hubungan matematika dengan al-Quran? Peerlu kita tahu, bahwa salah satu jenis mukjizat dari al-Quran adalah i’jaz ‘adadi (mu’jizat yang bersifat bilangan). Fenomena ini sudah banyak dipelajari oleh ulama-ulama terdahulu dan bahkan sampai sekarang pun masih banyak dipelajari oleh para ulama.

I’jaz ‘adadi inilah yang kemudian dirujuk sebagai sebuah pendekatan pembuktian mukjizat baru, yaitu dengan ilmu matematika. Seperti yang dilakukan A. Salma Alif Sampayya, Abu Zahra an-Najdi dan lain sebagainya.

Cara pembuktian kemukjizatan al-Quran seperti ini sangat unik. Diantaranya ditemukannya keseimbangan jumlah kata syahr (bulan) sebanyak 12 kali, jumlah kata sholawat (jama’ dari sholat) adalah lima, ad-dunya dan al-akhiroh yang sama-sama disebut 115 kali, dan lain sebagainya.

Apalagi pemakaian komputer untuk menghitung jumlah kata-kata dalam al-Quran, nilai numerik suatu kata, prosentase suatu kalimah terhadap keseluruhan al-Quran serta penemuan angka 19 sebagai angka kunci untuk memahami kombinasi-kombinasi angka dalam al-Quran, semuanya makin memantapkan penggunaan i’jaz ‘adadi dalam pembuktian kemukjizatan al-Quran.

Samakah pembuktian kemukjizatan al-Quran dengan sains non-matematik dan matematik? Tentu saja berbeda.

Matematika membuktikan kebenaran al-Quran bukan dengan observasi terhadap alam, namun dengan cara mencari titik temu dan keseimbangan bilangan dalam al-Qur’an. Matematika tidak mengenal pengamatan secara ilmiah pada alam semesta untuk memahami kemukjizatan al-Quran. Berbeda dengan Fisika, Biologi dan Geografi yang membuktikan kemukjizatan al-Quran dengan pengamatan terhadap alam semesta, baru kemudian “menghubungkan”nya dengan al-Qur’an.

Matematika hanya membutuhkan al-Qur’an itu sendiri. Matematika hanya membutuhkan data ‘berapa jumlah kata yaum?’, ‘berapa jumlah huruf dalam kalimah bismillahirrohmanirrohiim?’, ‘berapa nomor urut Surat an-Nuur dalam mushaf?’ dan lain sebagainya. Dari situ, dilakukan suatu permutasi, kombinasi dan operasi aritmatika lain yang nantinya akan menunjukkan sebuah keajaiban. Proses pembuktiannya yang murni memakai nalar dan bersumber dari al-Quran itu sendiri, membuat matematika Quran sungguh menakjubkan dan jauh dari kontroversi. Sifat matematika sendiri yang tidak membutuhkan observasi juga makin meyakinkan bahwa matematika Quran memang benar.

Namun, pembuktian al-Quran dengan cara ini, juga kadang dipakai seseorang untuk mendukung pendapatnya. Ambil contoh Rasyid Khalifa yang mengambil kesimpulan bahwa 2 ayat terakhir Surat at-Taubah harus dikeluarkan dari al-Quran karena “mengacaukan komposisi matematis al-Qur’an”. Pembuktian kemu’jizatan al-Quran dengan matematika juga menjadi alat penyebaran dogma dan keyakinan yang dianut oleh seorang ilmuwan. Seperti yang dilakukan Abu Zahra’ an Najdi yang mencoba mendukung faham-faham kaum Syi’ah dengan argumen matematisnya.

Advertisements

Mencabut Baterai Laptop?

[Ini adalah tulisan lama saya yang sudah pernah saya publish di blogspot dan ikut saya boyong ke wordpress]


Percaya ndak percaya, banyak wacana baru yang saya dapatkan setelah beli laptop baru. Kenyataannya, wacana-wacana tersebut banyak yang bertolak belakang dengan hal-hal yang sudah dipercayai kawan-kawan di sekitar penulis.

Hal pertama yang ingin saya bahas di sini adalah tips perawatan baterai laptop. Mitos* yang berkembang di lingkungan penulis adalah “Lepas baterai laptop ketika menggunakan laptop dalam waktu yang relatif lama supaya baterai tidak bocor”.

Alasan dari pendapat tersebut adalah agar baterai tahan lama karena penggunaan baterai diminimalisir.

Namun ternyata setelah googling, saya dapati bahwa banyak pendapat yang mengatakan hal tersebut kurang tepat (untuk tidak mengatakan salah). Karena jika kita melepas baterai, otomatis yang sumber arus yang dipakai oleh laptop kita adalah arus PLN. Kalau tiba-tiba listrik mati (bahasa Jawa-nya oglangan), maka laptop-pun akan mati mendadak. Dikhawatirkan “kematian mendadak” ini mengakibatkan konsleting (hubungan arus pendek) pada komponen di dalam laptop (motherboard, RAM, prosesor, misalnya). Tentu kita lebih memilih rusak baterai daripada rusak motherboard (pengennya sih nggak rusak semua ya? hehe). Memang sih, kita bisa menggunakan UPS untuk mencegah “kematian mendadak” ketika kita menggunakan laptop tanpa baterai. Tapi kalau saya pribadi memilih memakai baterai, daripada membeli UPS yang harganya 300 ribuan … (bilang aja ndak ada duit. hehe), Sedikit mengingatkan bahwa baterai laptop merupakan mekanisme pertahanan adanya pemutusan arus suplai listrik (mendadak) pada laptop seperti halnya UPS pada PC

Alasan lain, kenapa saya tidak mengikuti pendapat tersebut adalah kenyataan bahwa baterai laptop zaman sekarang sudah berjenis lithium baterai yang kabarnya sudah punya fitur pemutusan arus charge otomatis. Dan ketika saya baca manual petunjuk laptop saya (merk laptop saya DELL), saya dapati bahwa baterai laptop saya memiliki kemampuan tersebut (baca di sini). Sedikit mengutip pendapat dalam tanya jawab di yahoo!answer bahwa “Secara teknis baterai, memiliki umur pakai, tergantung jenisnya. saya rasa pabrik pembuat laptop sudah mempersiapkan itu semua. ikuti saja prosedur pemakaian yang ada pada buku panduan. jika buku panduan mengharuskan mengecas sekian jam pada awal pemakaian ikuti saja, jika tidak ya jangan.

Apalagi ada larangan dari beberapa post di kaskus dan indowebster untuk tidak melakukan charging and discharging, Semakin sering kita melakukan Charge Discharge (CdC), semakin cepat pula cycle count terpakai, dan efek dari semakin besarnya cycle count akan mengakibatkan backup time battery semakin rendah. Referensi charging dan discharging bisa dilihat di sini

Berkenaan dengan baterai laptop, sekali lagi semuanya terserah anda, mau ikut yang mana. Karena banyak sekali kontroversi seputar baterai laptop. Hidup adalah pilihan… dan silahkan memilih… hehehe…


Update: sekarang saya menggunakan laptop merk Fujitsu, dan sesuai yang saya sampaikan, saya mengalami bahwa baterai akan lebih awet jika sering tercolok listrik.

UTS PDM Smt. Ganjil 2015-2016

Soal nomor 1

Dipunyai dua buah himpunan A dan B.

  • Sebutkan definisi dari A=B! (5 poin)
  • Misalkan dipunyai A=\{a|a=4p+1,~~untuk~suatu~p\in \mathbb{Z}\} dan B=\{b|b=4q-3,~~untuk~suatu~q\in \mathbb{Z}\}. Periksa apakah A=B! (20 poin)

Soal nomor 2

Diberikan relasi R:\mathbb{Z}\to \mathbb{Z}, dengan \mathbb{Z} bilangan bulat.

  • Bilamanakah R disebut relasi refleksif, simetris, dan transitif? (5 poin)
  • Periksa apakah R=\{\left( x,y \right)|x\in \mathbb{Z},~y\in \mathbb{Z},xy=0\} adalah relasi refleksif, simetris, dan transitif! (15 poin)
  • Apakah R merupakan relasi ekivalen? Mengapa? (5 poin)

Soal nomor 3

Diberikan f:A\to B adalah fungsi dari A ke B.

  • Sebutkan definisi fungsi injektif (satu-satu) dan surjektif (kepada)! (10 poin)
  • Misal A=\{x|-2\le x<25,x\in \mathbb{Z}, B=\{x|-10<x<200,x\in \mathbb{R}\}, dan f\left( x \right)=4x. Periksa apakah f injektif dan surjektif! (15 poin)

Soal nomor 4

  • Sebutkan definisi himpunan terbilang! (5 poin)
  • Jika A=\left\{ x\left| x+1 \right\rangle 25,~x\in \mathbb{Z} \right\}, periksa apakah A himpunan terbilang! (20 poin)

Soal nomor 5

  • Dipunyai P=\{x|\sin x=\frac{1}{2}\}, dimana x diukur dalam satuan radian. Tuliskan P dengan tabulasi dan notasi pembentuk himpunan! (10 poin)
  • Dipunyai A=\left\{ 6n\text{ }\!\!|\!\!\text{ }n\in \mathbb{N} \right\}, B=\{2n|n\in \mathbb{N}\}, dan C=\left\{ 3n:n\in \mathbb{N} \right\}. Buktikan A=B\cap C! (20 poin)

Soal nomor 6

Misalkan relasi R:\mathbb{R}\to \mathbb{R}, dengan \mathbb{R} bilangan real.

  • Berikan contoh R yang simetris, tapi tidak refleksif dan tidak transitif! (5 poin)
  • Periksa apakah R=\{\left( x,y \right)|x\in \mathbb{R},~y\in \mathbb{R},\left| x \right|\le \left| y \right|\} adalah relasi refleksif, simetris, dan transitif. Dari pemeriksaan tersebut, simpulkan R merupakan relasi ekivalen atau bukan! (15 poin)

Soal nomor 7

Misalkan f:A\to B adalah fungsi dari A ke B.

  • Sebutkan definisi fungsi! (5 poin)
  • Misal A=\mathbb{Z}. , B=\mathbb{R}, dan f\left( x \right)={{x}^{2}}+x-2. Periksa apakah f injektif (satu-satu) dan surjektif (kepada)! (15 poin)

Soal nomor 8

  • Sebutkan definisi himpunan berngga, tak berhingga, denumerabel, dan terbilang (10 poin)
  • Jika P=\{x|x-15\ge 25,~x\in \mathbb{Z}\}, periksa apakah P himpunan terbilang! (20 poin)

Simtudduror ku..

Sholawat1

Sholawat1

tanggal 13 Februari jam 20.00, dimulai pengajian di masjid Khoirul Anwar, Kradenan, Maguwoharjo. Dimulai dengan penampilan hadroh anak-anak TPA, dilanjutkan dengan pembacaan simtudduror oleh Ahbaabul Musthofa. Paginya (tanggal 14 Februari) dilanjutkan sema’an al-Quran lalu malamnya ditambah simtudduror-an lagi plus pengajian peresmian masjid. Di malam kedua itu, simtudduror-an dipimpin oleh Habib Dullah diiringi Ahbaabul Musthofa.

Malam kedua itulah, aku ikut naik ke panggung, satu karpet dengan Habib Dullah. Ketika memandang beliau dari dekat, aku langsung terfikir… “Oh, mungkin seperti inilah rupa Nabi Muhammad saw. Bukankah Habib adalah orang-orang yang konon di dalam tubuhnya mengalir darah Nabi?”

Selanjutnya, di tengah pembacaan simtudduror, sinambi nuthuk rebana aku berfikir….

“Apa memang seperti inikah Nabi? Menganjurkan pengikut-pengikutnya melakukan sesuatu yang membuai hayalan?” Aku berfikir seperti itu sambil ingat bagaimana “pagelaran Habib Syeh” selalu membuat orang histeris dan terbuai. Kita sendiri bisa saksikan, bagaimana seorang Habib punya pengikut begitu banyaknya. Yang kadang salah satu di antaranya harus memaksakan diri memakai baju putih, menghafal bait-bait simtudduror

Allah… aku sendiri menyukai membaca simtudduror, diba’, barzanji, ada yang bilang kalau Nabi hadir dalam pembacaan kitab maulud itu. Aku sendiri gak ingin terlalu terhanyut dalam hal-hal gak logis kaya gitu. Toh, seharusnya kita meniati membaca semua kitab maulud untuk eneladani sikap Nabi. Kitab Maulud sendiri perlu dikritisi lho!!!

Riwayat Nabi Muhammad seringkali dibalut dengan mitos-mitos nan tak logis yang justru akan mematikan nalar berpikir kita. Ambil contoh dalam barzanji, ada pernyataan bahwa Nabi usia -kalau gak salah- tiga bulan sudah bisa berdiri, usia -kalau gak salah- lima bulan sudah bisa berdiri, usia -kalau gak salah- sembilan bulan sudah bisa berlari. Logiskah???

iya…bener nabi itu pribadi luar biasa, linuwih di antara yang luwih-luwih….

namun seyogyanya kita mengambil spirit perjuangan Nabi to… bagaimana Nabi mencoba menginjeksi masyarakat dengan ide-ide rasional… melakukan revolusi sosial nan total yang akhirnya membuat masyarakat Arab nan biadab menjadi beradab….

Entah…

Adek Angga dan Ujiannya

Pagi ini aku telfon seseorang, Anggraini Khoirotul Ummah namanya. Siswa kelas 3 sekolah menengah di sebuah Madrasah Aliyah di daerah Ponorogo. Dalam pembicaraan singkat -sekitar 12 menit- aku mendapati seorang siswa yang sedang “tertekan” dengan adanya ujian nasional. Tahun ini -kata dia- siswa Madrasah Aliyah juga harus menghadapi ujian pengetahuan keagamaan. Allah… berarti 3 ujian harus mereka lewati. Pertama, ujian nasional (la’natullah) yang menghadapkan 6 mata pelajaran. Kedua, ujian madrasah yang merupakan wewenang madrasah dan daerah, dan terakhir ujian pengetahuan keagamaan.

Pendidikan -katanya dan idealnya- adalah pemanusiaan manusia. tapi yang terjadi malah “proses pematian kreatifitas” dan pembodohan. Gimana gak bodoh coba? siswa belajar bukan karena keinginan pribadi namun karena paksaan pemerintah.

haduh sulit untuk mengungkapkan isi hatiku pasca mendengar celoteh dek Angga tadi pagi. Jadi ingat malam Jum’at kemarin ketika aku ngeles ngaji di tempat Azkiya. Malam itu kita nggak ngaji akhirnya karena Azkiya harus ikut seleksi CCAI esok paginya. So, aku nemenin dia belajar buat persiapan seleksi tersebut. Aku liat soal yang dipakai buat preview. Eeee… lagi-lagi aku harus misuh “Allahu Akbar…“. Seluruh soalnya hafalan!!!!

Fiqih, Aqidah, Qishoshul Anbiya’, Akhlak….Qur’an, Hadits…. semua hafalan dab!!!

Langsung aku teringat kata-kata almukarrom (hihihi) Cak Nun bahwa anaknya pernah bertanya, “yah… agama itu apa to??? tak kira agama itu mata pelajaran…”

Aku berfikir keras…iya ya… agama sekarang direduksi menjadi sebuah materi yang harus “diketahui”. bukan lagi menjadi nilai yang menginspirasi masnusia untuk membangun peradaban dan ber-relasi dengan Tuhan..

Semakin agama hanya dimaknai sebagai sebuah cover, ritual dan identitas, semakin dangkal dan jumud pula pemaknaan agama… Entah…

Indonesia ku nan remuk…

Piye Indonesia iki…” kata Fatik, “nang temanggung kerusuhan ki…nak akar masalahe kemiskinan ngunu rodo nggaya…lha dudu ok…” lanjutnya…

Lha terus opo?” tanyaku yang emang belum liat berita dari pagi… “sektarian???” lanjutku bertanya…

iyo sektarian….” Jawab fatik

Malamnya aku nonton berita di tempat Ayub. Lha iya emang ngawur kok ya… gara-gara sidang pelecehan agama -dimana terdakwa dituntut lima tahun penjara- akhirnya kerusuhan terjadi. Satu mobil polisi dihajar entek. Beberapa warga yang gak tau apa-apa ikut kena pukul. Pihak polisi pun juga sama, ada yang terluka. Memang terlihat kedua kubu sudah terpancing emosi.

Polisi memang bertugas mengamankan keadaan, sehingga mereka pun diperbolehkan melakukan tindakan yang sesuai SOP [standard operating procedure kali…]. Sayange polisi ikut ngehajar beberapa warga yang gak bersalah, cuma pas nepak’i berada di tempat kejadian [right man in the right placei, hihihi] .

Pasca kerusuhan di depan PN Temanggung, dilanjut pengrusakan terhadap tiga rumah ibadah [asumsiku sih itu gereja semua, tapi di berita gak disebut spesifik sih] yang salah satunya baru selesai direnovasi. Allah karimpiye jan… 2 milyar kerugian materiil diperkirakan. Belum dihitung kerugian imateriil seperti menguatnya ke-akuan Kristen dan Islam, sensitivitas masalah-masalah keagamaan dan lain-lain. Parah ya???? Haduh… ini sudah di batas kewajaran.

Asumsi nya sih penyerang-penyerang gereja itu orang luar Temanggung sendiri. Dan modelnya bener2 vandal banget. Remuk jan. hp dan seluruh media yang merekam aksi pengrusakan dibanting dan dirusak. Kok ya gak gentel banget. Cuma maunya lari dari tanggung jawab. Gak ada bedanya dengan pengecut-pengecut yang gak punya moral, penakut..

Teriakan allahu akbar diteriakkan lantang namun dengan aksi pengusakan. Kejamkah allah??? Said Aqil bilang dalam sebuah kesempatan bahwa asbabun nuzul “la ikroha fid din” adalah ada seorang sahabat asli Madinah yang memaksa anak-anaknya –yang Kristen- untuk masuk islam. Lha kok ya Islam anyaran [muallaf] yang sok-sokan pake sorban itu gak mikir sampai di sana. Nama Tuhan sama sekali gak pantas disebut dalam sebuah aksi vandalisme brutal kaya itu. Payah banget sih…

Memang, dari dulu sektarianisme dengan politisasi agama adlah hal yang terlalu sering terjadi dan seolah niscaya. Lha tapi sudah 2011 kok ya masih belum dwasa rakyat ini, terutama kelompok-kelompok penyerang tersebut. Remuk negaraku……….

Tentang Peradaban

Sebenarnya apa sih yang membuat peadaban mandeg? Apa karena masyarakat yang memang secara sadar “menolak modernitas ” dan tertutup dengan informasi dari luar?

Bukan, tidak,,,

yang terjadi mungkin adalah kesengajaan menutup informasi oleh oknum-oknum tertentu, para elit yang tidak ingin “keteraturan sosial” dalam masyarakatnya terganggu. Keteraturan sosial? Yah, maksudku kemapanan sosial yang menempatkan elit-elit tersebut dalam posisi yang memiliki hak-hak khusus dalam masyarakatnya.

Ini sekedar asumsi saja. Namun memang nampak seperti itu bagiku. Jika melihat kondisi Afrika, Jawa dan daerah lain yang “senasib”. Banyak orang-orang terpandang memandang sebuah pembaruan sebagai sebuah ancaman bagi tata sosial yang sudah mapan. Namun di sisi lain, ada -mungkin apologi- bahwa kekhatiran tersebut berhulu pada ketidakinginan elit-elit tersebut melihat masyarakatnya “tercemar” budaya luar yang -memang kadang- tidak sesuai dengan nilai-norma-adat yang arif.

Selanjutnya ilmu pengetahuan. Sejauh manakah kebolehan ilmu pengetahuan mengeksplorasi berbagai kearifan lokal yang ada di daerah? Ambil contoh, keingintahuan seseorang dalam memaknai sejarah kadang kala memaksanya memasuki ranah-ranah terlarang dalam adat. Semisal mendalami sejarah sebuah masyarakat tertentu kadang harus dengan meneliti makam ataupun tempat-tempat keramat yang terkadang tidak boleh didatangi.

Aku teringat dengan posisi ilmu pengetahuan di bad 15 an ketika gaung renaisaance bergaung di Eropa. Ilmu pengetahuan berada dalam posisi kontradiktif dengan dogma Kristen pada masa itu. Bagaimana tidak? Jika penggunaan nol, kalkulus dan kekosongan harus bertabrakan dengan dogma Aristotelian yang menyatakan bahwa tidak ada kekosongan di alam semesta. Atau teori geosentris yang akhirnya harus dipatahkan Copernicus?

Yah, mungkin perlu didiskusikan ini…